Daftar Slot Onlinejoker123esports indonesiaSBOBETpoker onlinesbobet88Daftar joker123
Penjelasan Lengkap Agama Hindu: Agama Tertua di Dunia
Anggita Dewi Saya sangat suka dengan keberagaman budaya dan seni yang ada di Negara Indonesia.

Agama Hindu

penjelasan agama hindu

Agama Hindu atau Hindunisme merupakan salah satu agama yang dominan di Asia Selatan terutama di India dan Nepal.

Agama ini memiliki berbagai macam tradisi dan meliputi berbagai aliran seperti Saiwa Waisnama dan Sakta serta suatu pandangan luas akan hukum dan aturan tentang “moralitas sehari-hari”.

Sebagai agama tertua di dunia, popularitas agama Hindu di Indonesia tidak begitu banyak. Kebanyakan dari mereka biasanya bertepat tinggal di Bali.

Karena itu, mungkin belum banyak yang mengetahui tentang ajaran Hindunisme ini. Namun, jangan khawatir. Karena kali ini Pesona Indonesia akan menyampaikannya untuk kalian semua. Yuk disimak.

Penjelasan Agama Hindu

Ajaran Hindu berdasar pada karma, darma, dan norma kemasyarakatan. Agama Hindu juga cenderung seperti himpunan berbagai pandangan filosofis atau intelektual.

Umat Hindu sendiri menyebut agamanya sebagai Sanata Dharma yang berarti darma abadi atau jalan abadi yang melampaui asal mula manusia.

Agama ini menyediakan kewajiban kekal untuk diikuti oleh seluruh umatnya tanpa memandang strata, kasta, atau sekte seperti kejujuran, kesucian, dan pengendalian diri.

Sejarah Agama Hindu

sejarah agama hindu

Agama Hindu di dunia dimulai dari masuknya bangsa Arya ke India sejak tahun 1500 SM. Masuknya bangsa tersebut kemudian membawa perubahan yang sangat besar dalam tata kehidupan masyarakat India.

Perubahan ini terjadi karena bangsa Arya mengadakan integrasi kebudayaan dengan bangsa Dravida dan selanjutnya integrasi ini melahirkan agama Hindu.

1. Periode Weda

Periode Weda berlangsung dari 1750 – 500 SM. Disebut demikian karena berdasarkan agama berbasis Weda yang dianut oleh bangsa Indo-Arya.

Mereka bermigrasi ke India Barat Daya setelah mundurnya peradaban lembah sungai Indus. Bangsa ini membawa serta bahasa dan agama mereka.

Agama mereka berkembang lebih jauh ketika bermigrasi ke daratan India Utara setelah 1100 SM dan menjadi Pastoralis.

Meski kepercayaan dan praktik pada masa Hindunisme Praklasik boleh jadi berasal dari bahan-bahan agama Proto-Indo-Eropa, sastra yang mendasari tradisi pada masa itu adalah Weda Samhita.

Selama periode Weda awal (1500 – 1100 SM), suku-suku penganut Weda merupakan suku pengembala, berkelana di sekitar India sebelah barat laut.

Setelah 110 SM, suku-suku penganut Weda berpindah ke daratan India Utara sebelah barat dan mengadaptasi gaya hidup agraris.

Pada abad ke-9 dan ke-8 terjadi penyusunan kitab-kitab Upanishad tertua. Upanishad membentuk suatu dasar teoretis bagi Hindunisme Klasik dan dikenal sebagai Wedanta.

Kitab-kitab ini menangkal intensitas upacara-upacara yang kian bertambah. Spekulasi monistis yang beragam dari ajaran Upanishad disintetiskan menjadi suatu kerangka teistis dalam kitab suci Hindu Bhagawadgita.

Etika dalam kitab-kitab Weda berdasarkan konsep satya dan reta. Satya adalah prinsip integrasi yang berakar pada kemutlakan. Reta adalah ungkapan dari Satya yang meregulasi dan mengkoordinasi jalannya alam semesta beserta segala sesuatu di dalamnya.

Kesesuaian dengan reta akan memungkinkan sesuatu berjalan sebagaimana mestinya, sedangkan penyimpangan akan mengakibatkan hal yang tidak diinginkan. Istilah dharma sudah mengakibatkan hal yang tidak diinginkan.

2. Reformisme Asketis

Peningkatan urbanisasi di India pada abad ke-7 dan ke-6 SM telah mendukung terjadinya gerakan asketis atau Sramana yang menentang fanatisme terhadap berbagai upacara.

Mahavira dan Buddha Gautama adalah tokoh-tokoh terkemuka dalam gerakan tersebut. Mereka juga dipercaya sebagai warisan kebudayaan pra-Weda.

Dalam suatu bagian, tradisi Sramana mengajarkan konsep siklus kelahiran dan kematian, konsep samsara, dan konsep pencarian kebebasan yang menjadi karakteristik Hindunisme.

3. Hindunisme Klasik

Hindunisme Praklasik

Pada periode 500 hingga 200 SM, terjadi sintetis Hindu yang menyerap pengaruh-pengaruh Sramana dan Buddha, serta kemunculan tradisi Bhakti dalam balutan Brahmanisme melalui pusaka Smerti.

Sintetis ini timbul di bawah tekanan perkembangan agama Buddha dan Jainisme. Beberapa tradisi keagamaan lainnya hadir berdampingan dengan agama berbasis Weda.

Agama-agama pribumi tersebut akhirnya menemukan tempat di bawah naungan agama Weda. Ketika Brahmanisme mulai kehilangan pamornya dan harus bersaing dengan Buddhisme dan Jainisme, agama-agama yang populer mendapat kesempatan untuk menonjolkan ajarannya.

Zaman Kejayaan

Selama periode ini, kekuasaan atas India disentralisasi, seiring dengan berkembangnya perdagangan ke negeri yang jauh, standarisasi prosedur legal, dan pemberantasan buta huruf.

Buddhisme aliran Mahayana menyebar sedangkan Brahmana ortodoks mulai disegarkan kembali di bawah perlindungan dinasti Gupta. Kedudukan para Brahmana diperkuat kembali dan kuil-kuil Hindu mulai didirikan sebagai dedikasi untuk dewa-dewi Hindu.

Selama masa ini, sastra Purana mulai ditulis, digunakan untuk menyebarkan ideologi keagamaan umum di kalangan masyarakat pribumi dan buta huruf yang menjalani akulturasi.

Hal ini menyebabkan timbulnya Hindunisme-Puranis yang berbeda dengan Brahmanisme sebelumnya.

Hindunisme Klasik Akhir

Setelah runtuhnya kemaharajaan Gupta dan Harsha, kekuasaan di India mengalami desentralisasi. Beberapa kerajaan besar mulai berdiri, dengan negeri taklukan yang sangat banyak. Kerajaan-kerajaan tersebut dipimpin dengan sistem feodal.

Perpecahan kekuasaan pusat juga mengarah kepada persaingan religius. Kultus dan bahasa lokal lebih diutamakan, dan pengaruh Hindunisme-Brahmanis ritualistis berkurang.

Gerakan rakyat dan kebaktian mulai bermunculan seiring dengan tumbuhnya aliran Saiwa, Waisnawa, Bhakti, dan Tantra, meskipun pengelompokkan menurut sekte hanya terjadi saat permulaan perkembangan aliran-aliran tersebut.

Agama Buddha kehilangan pamornya setelah abad ke-8 lalu mulai memudar di India. Sastra Purana Kuno disusun untuk menyebarkan ideologi keagamaan yang awam di kalangan masyarakat Pribumiyang mengalami akulturasi.

Para Brahmana menyebar ke berbagai penjuru India, berinteraksi dengan warga lokal yang menganut kepercayaan dan ideologi berbeda. Inilah yang menjadi dasar penyebaran agama Hindu.

Sejarah Hindu Di Indonesia

Agama Hindu Bali di Indonesia diperkirakan masuk pada awal Tarikh Masehi, dibawa oleh para Musafir dari India. Mereka adalah Maha Resi Agastya dan Budha Pahyien.

Kedua tokoh ini mengadakan perjalanan keliling Nusantara menyebarkan Dharma. Bukti-bukti peninggalan keliling Nusantara menyebarkan Dharma.

Bukti-bukti ini sangat banyak berupa sisa-sisa kerajaan Hindu seperti Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Kutai, Kerajaan Mataram Hindu, Kerajaan Singosari, Kerajaan Watu Renggong, Kerajaan Udayana, serta candi Hindu.

Agama Hindu pun sudah masuk ke Indonesia pada permulaan Tarikh Masehi dan berkembang dari pulau  ke pulau namun pulau Bali baru mendapatkan perhatian mulai abad ke-8 oleh pendeta-pendeta Hindu.

Diantaranya adalah Empu Markandeya yang berasrama di wilayah Gunung Raung daerah Basuki Jawa Timur. Beliau lah yang memimpin ekspedisi pertama ke pulau Bali sebagai penyebar agama Hindu. Ekspedisi yang diikuti oleh 400 orang ini gagal.

Setelah persiapan matang, akhirnya ekspedisi kedua dilaksanakan dengan kurang lebih 2000 pengikut dan sukses dengan gemilang.

Beliau juga mendirikan sebuah Pura Murwa unntuk mengembangkan wilayah menuju pangkal gunung Agung.

Kasta Hindu

Asal-usul agama Hindu ditindaklanjuti dengan adanya perubahan corak kehidupan di India. Corak kehidupan masyarakat Hindu tersebut dibedakan atas 4 kasta, diantaranya :

  • Kasta Brahmana: Keagamaan.
  • Kasta Ksatria: Pemerintahan.
  • Kasta Wacyd (Waisya): Pertanian dan perdagangan.
  • Kasta Cudra (Sudra): Kaum pekerja kasar.

Tempat Ibadah Agama Hindu

Tempat Ibadah Agama Hindu

Tempat ibadah Hindu pada umumnya disebut kuil. Pembangunan kuil dan tata cara persembahyangan diatur dalam beberapa kitab berbahasa Sanskerta yang disebut Agama.

Umat Hindu dapat menyelenggarakan puja di rumah atau kuil. Untuk peribadatan di rumah, biasanya umat Hindu membuat kamar suci atau kuil kecil dengan ikon atau altar yang didedikasikan bagi dewa atau dewi tertentu (istadewata).

Umat Hindu melakukan persembahyangan melalui suatu murti atau pratima, dapat berupa arca, lingga, atau sesuatu lainnya sebagai lambang dari dewa yang dipuja, disakralkan/disucikan terlebih dahulu melalui suatu upacara.

Kitab Suci Agama Hindu

kitab suci agama hindu

Ajaran Hindu didasarkan pada kitab suci atau susastra suci keagamaan yang disusun dalam masa yang amat panjang dan berabad-abad, yang mana di dalamnya memuat nilai-nilai spiritual keagamaan dengan tuntunan dalam kehidupan di jalan dharma.

Di antara susastra suci tersebut, kitab suci Hindu Weda merupakan yang paling tua dan lengkap, yang diikuti dengan Upanishad sebagai susastra dasar yang sangat penting dalam mempelajari filsafat Hindu.

Sastra lainnya yang menjadi landasan penting dalam ajaran Hindu adalah Tantra, Agama dan Purana serta epos Ramayaṇa dan Mahabharata.

Bhagavad Gita adalah ajaran yang dimuat dalam Mahabharata, merupakan susastra yang dipelajari secara luas, yang sering disebut sebagai ringkasan dari Weda.

Hindu meliputi banyak aspek keagamaan, tradisi, tuntunan hidup, serta aliran / sektarian. Umat Hindu meyakini akan kekuasaan Yang Maha Esa, yang disebut dengan Brahman dan memuja Brahma,

Wisnu atau Siwa sebagai perwujudan Brahman dalam menjalankan fungsi sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur alam semesta.

Secara umum, pustaka suci Hindu dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:

1. Sruti

Berarti “yang didengar” atau wahyu. Yang tergolong kitab Sruti adalah kitab-kitab yang ditulis berdasarkan wahyu Tuhan, seperti misalnya Veda, Upanishad, dan Bhagavad Gita.

Dalam perkembangannya, Veda dan Upanishad terbagi lagi menjadi bagian yang lebih kecil, seperti misalnya Rigveda dan Isa Upanishad. Kitab Veda berjumlah empat bagian sedangkan kitab Upanishad berjumlah 108.

2. Smerti

Berarti “yang diingat” atau tradisi. Yang tergolong kitab Smerti adalah kitab-kitab yang tidak memuat wahyu Tuhan, melainkan kitab yang ditulis berdasarkan pemikiran dan budaya manusia. Kitab-kitab smerti merupakan penjabaran moral yang terdapat dalam kitab Sruti.

Hari Besar Agama Hindu

1. Hari Raya Galungan

Datang setiap 6 bulan sekali tepatnya pada hari Rabu (Buda), Kliwon, wuku Dungulan. Tujuan digelarnya hari raya agama Hindu ini untuk memperingati kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan).

Hari ini dikenal juga sebagai hari raya pawedalan jagat (lahirnya jagat raya), umat wajib memuja Ida Sang Hyang Widi atas terciptanya alam semesta dan mengucapkan terima kasih. 

2. Hari Raya Kuningan

Dirayakan 10 hari setelah perayaan Hari Raya Galungan, sehingga secara otomatis digelar setiap 6 bulan (210 hari) sekali yaitu pada hari Sabtu (Saniscara), Kliwon, wuku Kuningan.

Diyakini juga Hyang Widi turun kedunia diiringi oleh dewa-dewi juga para leluhur sampai batas waktu setengah hari saja.

3. Hari Raya Nyepi

Merupakan hari tahun Baru kalender ISaka, perayaanya setiap satu tahun sekali (antara Maret-April). Hari Raya ini jatuh pada hitungan Tilem (bulan mati) sasih Kesanga (bulan-9).

Pada perayaan tahun baru Saka tersebut umat Hindu diwajibkan untuk melaksakan catur brata penyepian diantaranya tidak boleh menyalakan lampu, bepergian, ribut dan bersenang-senang.

Sebelum perayaan puncak Nyepi diawali terlebih dahulu dengan upacara Melasti, kemudian pecaruan atau tawur Kesanga.

4. Hari Raya Saraswati

Merupakan hari suci turunya Ilmu Pengetahuan, manisfestasi Tuhan yang dipuja saat perayaan ini adalah Dewi Saraswati.

Perayaannya jatuh pada hari Sabtu (Saniscara), Umanis, Wuku Watugunung setiap 6 bulan sekali. Hari tersebut dikenal juga sebagai piodalan Sang Hyang Aji Saraswati.

Sang Dewi Turun membawa ilmu pengetahuan agar bisa digunakan secara arif dan dijalan yang benar. Dewi Saraswati sendiri adalah sakti dari Dewa Brahma yang berfungsi sebagai Maha Pencipta. Sehingga diharapkan tercipta berbagai hal baru dengan ilmu pengetahuan untuk membantu manusia.

5. Hari Raya Siwaratri

Diyakini sebagai hari peleburan dosa, sebuah malam yang sakral bertepatan dengan payogan Dewa Siwa. Dosa memang tidak bisa dihilangkan tetapi dalam malam renungan suci tersebut bisa pengampunan dosa yang telah kita perbuat.

Pada saat itulah umat diharapkan melakukan tapa, brata yoga semadi sehari dan semalam penuh, tanpa tidur kalau bisa tanpa makan. Umat diusahakan agar bisa mejagra (melek) seharian dan semalam penuh.

Dirayakan setahun sekali sesuai kalender Saka yaitu pada hari Tilem (bulan mati) sasih Kepitu.

6. Hari Raya Pagerwesi

Hari Raya Hindu ini digelar setiap 6 bulan sekali yaitu pada hari Rabu (Budha), Kliwon, wuku Sinta. Pada saat tersebut dipuja Sang Hyang Pramesti Guru yaitu manifestasi Tuhan sebagai guru dari alam semesta.

Pada saat inilah umat bisa memagari diri dengan iman dan dan kesucian diri, agar terhindar dari kegelapan dan bisa menerima kemuliaan dari Tuhan. Pemujaan di rumah dilakukan di sanggah atau pemerajan kemudian dilanjutkan ke pura-pura kahyangan jagat.

7. Hari Purnama Tilem

Hari Purnama (bulan penuh) dan Tilem (bulan mati), datangnya setiap 30 dan 29 hari sekali. Hari-hari tersebut diambil berikut dengan sasih Isaka, sebagai patokan untuk hari baik dalam pelaksanaan upacara yadnya, baik itu melakukan piodalan di sebuah pura.

Diyakini sebagai payogan Sang Hyang Candra dan Tilem sebagai Payogan Sang Hyang Surya. Bertepatan dengan hari tersebut umat bisa memohon berkah dan kesucian.

Itulah informasi lengkap mengenai agama Hindu yang tak kalah indah dengan agama lain. Tentu saja agama ini juga mengajarkan tentang kebaikan serta menghindari dosa.

Karena itu, diharapkan setiap umat beragama dapat menghargai agama satu sama lain agar terus tercipta kesejarhteraan di Indonesia.

Semoga artikel ini berguna dan bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan wawasan kalian. Terutama pada bidang agama Hindu.

Avatar
Anggita Dewi Saya sangat suka dengan keberagaman budaya dan seni yang ada di Negara Indonesia.

Agama Konghucu

Avatar Anggita Dewi
4 min read

Agama Katolik

Avatar Anggita Dewi
3 min read