Daftar Slot Onlinejoker123esports indonesiaSBOBETpoker onlinesbobet88Daftar joker123
Sejarah Islam di Indonesia: Perkembangan Penyebaran Islam di indonesia
Anggita Dewi Saya sangat suka dengan keberagaman budaya dan seni yang ada di Negara Indonesia.

Agama Islam

penjelasan lengkap agama islam

Islam merupakan agama yang paling mayoritas dipeluk oleh warga Indonesia. Islam bahkan diikuti oleh 1,8 miliar orang di seluruh dunia sehingga menjadi agama terbesar kedua setelah Kristen.

Dengan besarnya agama ini, mungkin banyak dari kalian yang belum tahu atau keliru mengenai Islam.

Karena itu, kali ini Pesona Indonesia akan membahas mengenai Islam dari mulai sejarahnya, sampai dengan teori teorinya.

Baca Juga: 6 Agama Resmi di Indonesia Beserta Penjelasan Lengkap!

Pengertian Agama Islam

Islam adalah salah satu agama yang diterima oleh seorang nabi (agama samawi) yang mengajarkan monoteisme tanpa kompromi, iman terhadap wahyu, iman terhadap akhir zaman, dan tanggu jawab. Bersama para pengikut Yudaisme dan Kekristenan, seluruh muslim adalah anak turun Ibrahim.

Kata “Islam” berasal dari bahasa Arab aslama – yuslimu yang berarti tunduk dan patuh, berserah diri, menyerahkan, memasrahkan, mengikuti, menunaikan, menyampaikan, masuk dalam kedamaian, keselamatan, atau kemurnian.

Secara istilah, Islam bermakna penyerahan diri, ketundukan dan kepatuhan terhadap perintah Allah serta pasrah dan menerima dengan puas terhadap ketentuan dan hokum-hukum nya.

Berserah diri dimaksudkan sebagai kebalikan dari rasa berat hati dalam mengikuti ajaran agama dan lebih suka memilih jalan mudah dalam hidup. Seorang muslim mengikuti perintah Allah tanpa menentang atau mempertanyakannya, tetapi disertai usaha untuk memahami hikmahnya.

Tuhan Dalam Agama Islam

Menurut agama Islam, Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, memiliki nama-nama terbaik, serta memiliki sifat dan karakter tertinggi.

Ajaran monoteisme Islam disebut tauhid, yang didefinisikan sebagai pengesaan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan Tuhan dan yang dia wajibkan.

Pengesaan Allah dalam hal-hal kekhususan Tuhan dibagi menjadi dua bahasan, yaitu tauhid rububiyah dan tauhid asma wash shifat, sedangkan pengesaan Allah dalam hal-hal yang dia wajibkan dibahas dalam tauhid uluhiyah.

Doa Dalam Kajian Islam

Zikir dan doa adalah dua macam ibadah kepada Allah yang secara umum tidak memiliki batasan waktu dan tempat.

Zikir secara bahasa artinya mengingat atau menyebut. Secara istilah, zikir mencakup ibadah memuji Allah, mengingat nama-nama-Nya, nikmat-Nya, keputusan dan takdir-Nya, ajaran agama-Nya, serta janji balasan pahala dan ancaman siksa-Nya.

Ibadah zikir mencakup zikir hati dan zikir lisan. Zikir bertujuan untuk mewujudkan kesempurnaan peribadahan kepada Allah. Membaca Alquran juga termasuk zikir.

Doa secara bahasa artinya memanggil atau meminta. Doa mencakup panggilan pujian dan permintaan kepada Allah.

Doa yang tidak terdapat di dalam Alquran dan Sunnah diperbolehkan selain doa yang melampaui batas, seperti meminta agar mengetahui segala sesuatu atau mengetahui hal gaib karena itu merupakan kekhususan Allah.

Ajaran dan Sumber Hukum Islam

Fikih (hokum) merupakan kajian keilmuan primer dalam Islam. Seperti halnya dalam Yudaisme, hokum lebih menjadi titik berat karena Islam berarti tunduk kepada hukum Allah. Inilah yang menjadi background Islam.

Namun, penekanan pada ajaran hukum yang bersifat praktis tidaklah mengesampingkan ajaran kepercayaan.

Selama masa kenabian, ajaran-ajaran dan hokum-hukum Islam diambil dari dua wahyu sebagai sumber primer, Alquran dan Sunnah.

Alquran berlaku sebagai sumber pokok dan cetak biru untuk kehidupan Islami, sedangkan kehidupan sehari-hari Nabi (sunnah) berlaku untuk menerangkan prinsip-prinsip dalam cetak biru tersebut serta untuk menunjukkan cara mengaplikasikannya.

Sejarah Islam

1. Masa Pra Islam

Sejarah peradaban Islam dimulai dari Jazirah Arab sebelum kedatangan agama Islam yang merupakan sebuah kawasan perlintasan perdagangan dalam Jalan Sutera yang menghubungkan antara Indo Eropa dengan kawasan Asia di timur.

Kebanyakan orang Arab merupakan penyembah berhala dan ada sebagian yang merupakan pengikut agama-agama Kristen dan Yahudi.

Mekkah adalah tempat yang suci bagi bangsa Arab saat itu. Karena di sana terdapat berhala-berhala agama mereka, telaga Zamzam, dan yang terpenting adalah Ka’bah. Masyarakat ini disebut pula jahiliyah, artinya bodoh, bukan dalam hal intelegensia namun dalam pemikiran moral.

Warga Quraisy adalah masyarakat yang suka berpuisi, dan menjadikan puisi sebagai salah satu hiburan di saat berkumpul di tempat-tempat ramai.

2. 609-632: Masa Kenabian

Islam bermula pada tahun 609 ketika wahyu pertama diturunkan kepada Muhammad di Gua Hira’, 2 mil dari Mekah.

Muhammad dilahirkan di Mekkah pada tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Gajah. Ketika Muhammad berusia 40 tahun, ia mulai mendapatkan wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril, dan sesudahnya selama beberapa waktu mulai mengajarkan ajaran Islam secara tertutup kepada para sahabatnya.

Setelah tiga tahun menyebarkan Islam secara sembunyi-sembunyi, ia akhirnya menyampaikan ajaran Islam secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekah, yang mana sebagian menerima dan sebagian lainnya menentangnya.

Pada tahun 622, Muhammad dan pengikutnya berpindah ke Madinah. Peristiwa ini disebut hijrah dan menjadi dasar acuan permulaan perhitungan kalender Islam, yaitu Kalender Hijriah.

Di Madinah, Muhammad dapat menyatukan orang-orang anshar (kaum muslimin dari Madinah) dan muhajirin (kaum muslimin dari Mekkah), sehingga umat Islam semakin menguat.

Dalam setiap peperangan yang dilakukan melawan orang-orang kafir, umat Islam selalu mendapatkan kemenangan. Dalam fase awal ini, tak terhindarkan terjadinya perang antara Mekkah dan Madinah.

Keunggulan diplomasi nabi Muhammad pada saat perjanjian Hudaibiyah, menyebabkan umat Islam memasuki fase yang sangat menentukan.

Banyak penduduk Mekkah yang sebelumnya menjadi musuh kemudian berbalik memeluk Islam, sehingga ketika penaklukan kota Mekkah oleh umat Islam tidak terjadi pertumpahan darah. Ketika Muhammad wafat di usia yang ke-61, hampir seluruh Jazirah Arab telah memeluk Islam.

3. 632-661: Khalifah Rasyidin

Khalifah Rasyidin atau Khulafaur Rasyidin memilki arti pemimpin yang diberi petunjuk, diawali dengan kepemimpinan Abu Bakar, dan dilanjutkan oleh kepemimpinan Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib.

Pada masa ini umat Islam mencapai kestabilan politik dan ekonomi. Abu Bakar memperkuat dasar-dasar kenegaraan umat Islam dan mengatasi pemberontakan beberapa suku-suku Arab yang terjadi setelah meninggalnya Muhammad.

Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib berhasil memimpin balatentara dan kaum Muslimin pada umumnya untuk mendakwahkan Islam, terutama ke Syam, Mesir, dan Irak.

Dengan takluknya negeri-negeri tersebut, banyak harta rampasan perang dan wilayah kekuasaan yang dapat diraih oleh umat Islam.

4. 632-Abad ke-20: Masa kekhalifahan selanjutnya

Setelah periode Khalifah Rasyidin, kepemimpinan umat Islam berganti dari tangan ke tangan dengan pemimpinnya yang juga disebut “khalifah”, atau kadang-kadang disebut “amirul mukminin”, “sultan”, dan sebagainya.

Pada periode ini khalifah tidak lagi ditentukan berdasarkan orang yang terbaik di kalangan umat Islam, melainkan secara turun-temurun dalam satu dinasti (bahasa Arab: bani) sehingga banyak yang menyamakannya dengan kerajaan.

Seperti kekhalifahan Bani Umayyah, Bani Abbasiyyah, hingga Bani Utsmaniyyah yang kesemuanya diwariskan berdasarkan keturunan.

Besarnya kekuasaan kekhalifahan Islam telah menjadikannya salah satu kekuatan politik yang terkuat dan terbesar di dunia pada saat itu.

Timbulnya tempat-tempat pembelajaran ilmu-ilmu agama, filsafat, sains, dan tata bahasa Arab di berbagai wilayah dunia Islam telah mewujudkan satu kontinuitas kebudayaan Islam yang agung.

Banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan bermunculan dari berbagai negeri-negeri Islam, terutamanya pada zaman keemasan Islam sekitar abad ke-7 sampai abad ke-13 masehi.

Luasnya wilayah penyebaran agama Islam dan terpecahnya kekuasaan kekhalifahan yang sudah dimulai sejak abad ke-8, menyebabkan munculnya berbagai otoritas-otoritas kekuasaan terpisah yang berbentuk “kesultanan”.

Seperti Kesultanan Safawi, Kesultanan Turki Seljuk, Kesultanan Mughal, Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Malaka, yang telah menjadi kesultanan-kesultanan yang memiliki kekuasaan yang kuat dan terkenal di dunia.

Meskipun memiliki kekuasaan terpisah, kesultanan-kesultanan tersebut secara nominal masih menghormati dan menganggap diri mereka bagian dari kekhalifahan Islam.

Pada kurun ke-18 dan ke-19 masehi, banyak kawasan-kawasan Islam jatuh ke tangan penjajah Eropa. Kesultanan Utsmaniyyah (Kerajaan Ottoman) yang secara nominal dianggap sebagai kekhalifahan Islam terakhir, akhirnya tumbang selepas Perang Dunia I.

Kerajaan ottoman pada saat itu dipimpin oleh Sultan Muhammad V. Karena dianggap kurang tegas oleh kaum pemuda Turki yang di pimpin oleh Mustafa Kemal Pasya atau Kemal Atatürk, sistem kerajaan dirombak dan diganti menjadi republik.

Sejarah dan Teori Masuknya Islam ke Indonesia

sejarah islam di indonesia

1. Masa Kerajaan

Sejak abad ke-2 Sebelum Masehi orang-orang Ceylon telah berdagang dan masuk abad ke-7 Masehi, orang Ceylon mengalami kemajuan pesat dalam hal perdagangan dengan orang China.

Lalu, pada pertengahan abad ke-8 orang Arab telah sampai ke Kanton. Mengenai tempat asal kedatangan Islam yang menyentuh Indonesia, di kalangan para sejarawan terdapat beberapa pendapat.

Ahmad Mansur Suryanegara mengikhtisarkan teori masuknya Islam dalam tiga teori besar:

  • Pertama, teori Gujarat, India. Islam dipercaya datang dari wilayah Gujarat – India melalui peran para pedagang India muslim pada sekitar abad ke-13 M.
  • Kedua, teori Makkah. Islam dipercaya tiba di Indonesia langsung dari Timur Tengah melalui jasa para pedagang Arab muslim sekitar abad ke-7 M.
  • Ketiga, teori Persia. Islam tiba di Indonesia melalui peran para pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad ke-13 M.

Mereka berargumen akan fakta bahwa banyaknya ungkapan dan kata-kata Persia dalam hikayat-hikayat Melayu, Aceh, dan bahkan juga Jawa.

Selain itu pula, temuan Marco Polo juga menyatakan sebagai dampak interaksi orang-orang Perlak di Sumatera Utara, mereka telah mengenal Islam.

Selama masa-masa ini, dinyatakan oleh Van Leur dan Schrieke, bahwa penyebaran Islam lebih terbantu lewat faktor-faktor politik alih-alih karena niaga.

Pandangan lain dari AH Johns dan SQ Fatimi menyebutkan penyebaran Islam bertumpu pada imam-imam Sufi yang cakap dalam soal kebatinan, dan bersedia menggunakan unsur-unsur kebudayaan pra Islam dan mengisinya kembali dengan semangat yang lebih Islami.

Melalui Kesultanan Tidore yang juga menguasai Tanah Papua, sejak abad ke-17, jangkauan terjauh penyebaran Islam sudah mencapai Semenanjung Onin di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Ahli sejarah Barat beranggapan Islam masuk di Indonesia mulai abad 13 adalah tidak benar, Abdul Malik Karim Amrullah berpendapat bahwa pada tahun 625 M sebuah naskah Tiongkok mengkabarkan bahwa menemukan kelompok bangsa Arab yang telah bermukim di pantai Barat Sumatra (Barus).

Pernyataan yang hampir senada dikemukakan Arnold, bahwa mungkin Islam telah masuk ke Indonesia sejak abad-abad awal Hijriah.

Meskipun kepulauan Indonesia telah disebut-sebut dalam tulisan ahli-ahli bumi Arab, di dalam tarikh China telah disebutkan pada 674 M orang-orang Arab telah menetap di pantai barat Sumatera.

Pada tahun 30 Hijriyah atau 651 M semasa pemerintahan Khilafah Islam Utsman bin Affan (644-656 M), memerintahkan mengirimkan utusannya (Muawiyah bin Abu Sufyan) ke tanah Jawa yaitu ke Jepara (pada saat itu namanya Kalingga).

Hasil kunjungan duta Islam ini adalah raja Jay Sima, putra Ratu Sima dari Kalingga, masuk Islam. Namun menurut Hamka sendiri, itu terjadi tahun 42 Hijriah atau 672 Masehi.

Pada tahun 718 M raja Srivijaya Sri Indravarman setelah pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (717 – 720 M) (Dinasti Umayyah) pernah berkirim surat dengan Umar bin Abdul Aziz sekaligus berikut menyebut gelarnya dengan:  

  • 1000 ekor gajah
  • Berdayang inang pengasuh di istana 1000 putri
  • anak-anak raja yang bernaung di bawah payung panji.

Baginda berucap terima kasih akan kiriman hadiah daripada Khalifah Bani Umayyah tersebut.

Dalam hal ini, Hamka mengutip pendapat SQ Fatimi yang membandingkan dengan The Forgotten Kingdom Schniger bahwa memang yang dimaksud adalah Sriwijaya tentang Muara Takus, yang dekat dengan daerah yang banyak gajahnya, yaitu Gunung Suliki.

Apalagi dalam rangka bekas candi di sana, dibuat patung gajah yang agaknya bernilai di aana. Tahun surat itu disebutkan Fatemi bahwa ia bertarikh 718 Masehi atau 75 Hijriah. Dari situ, Hamka menepatkan bahwa Islam telah datang ke Indonesia sejak abad pertama Hijriah.

Selain itu, fakta yang juga tak bisa diabaikan adalah bahwa adanya kitab Izh-harul Haqq fi Silsilah Raja Ferlak yang ditulis Abu Ishaq al-Makrani al-Fasi yang berasal dari daerah Makran.

Balochistan menyebut bahwa Kerajaan Perlak didirikan pada 225 H/847 M diperintah berturut-turut oleh delapan sultan.

Bukti lain memperlihatkan telah munculnya Islam pada masa awal dengan bukti Tarikh Nisan Fatimah binti Maimun (1082M) di Gresik.

Untuk menjelaskan bagaimana metode penyebaran Islam di Indonesia, Arnold mengutip catatan yang dikutip dari C. Semper bahwa para pedagang Muslim menggunakan bahasa dan adat istiadat orang tempatan.

Setelah mengadakan pernikahan dengan orang setempat, pembebasan budak, maka ia mengadakan perserikatan dan tak lupa tetap memelihara hubungan persahabatan dengan golongan aristokrat yang juga telah mendukung kebebasannya.

Para pedagang ini, tidaklah datang sebagai penyerang, tidak pula memakai pedang, ataupun memakai kelas atas guna menekan kawula-kawula rakyat.

Namun dakwah dilakukan dengan kecerdasan, dan harta perdagangan yang mereka punya lebih mereka utamakan untuk modal dakwah.

Selama masa-masa abad pertengahan ini, pedagang-pedagang Muslim turut memberi andil dalam bertumbuhnya perdagangan dan kota-kota yang terlibat di sana.

Bersamaan dengan kegiatan dagang orang Tionghoa dari Dinasti Ming, Gresik, Malaka, dan Makassar berubah dari kampung kecil menjadi kota-kota besar dengan penduduk 50 ribu jiwa. Begitupun untuk Aceh, Patani, dan Banten.

2. Masa Kolonial

Pada abad ke-17 masehi atau tahun 1601 kerajaan Hindia Belanda datang ke Nusantara untuk berdagang, tetapi pada perkembangan selanjutnya mereka menjajah daerah ini.

Belanda datang ke Indonesia dengan kamar dagangnya, VOC, sejak itu hampir seluruh wilayah Nusantara dikuasainya kecuali Aceh.

Saat itu antara kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong.

Dengan sumuliayatul (kesempurnaan) Islam yang tidak ada pemisahan antara aspek-aspek kehidupan tertentu dengan yang lainnya, ini telah diterapkan oleh para ulama saat itu.

Ketika penjajahan datang, para ulama mengubah pesantren menjadi markas perjuangan, para santri (peserta didik pesantren) menjadi jundullah (pasukan Allah) yang siap melawan penjajah, sedangkan ulamanya menjadi panglima perang.

Potensi-potensi tumbuh dan berkembang pada abad ke-13 menjadi kekuatan perlawanan terhadap penjajah.

Ini dapat dibuktikan dengan adanya hikayat-hikayat pada masa kerajaan Islam yang syair-syairnya berisi seruan perjuangan. Para ulama menggelorakan jihad melawan penjajah Belanda.

Selain itu, mereka juga mendirikan Syarikat Islam atau sarekat Islam untuk menentang politik Belanda memberi kekuasaan masuknya pedagang asing untuk menguasai komplar ekonomi rakyat pada masa itu.

Di akhir abad ke-19, muncul ideologi pembaruan Islam yang diserukan oleh Jamal-al-Din Afghani dan Muhammad Abduh.

Ulama-ulama Minangkabau yang belajar di Kairo, Mesir banyak berperan dalam menyebarkan ide-ide tersebut, di antara mereka ialah Muhammad Djamil Djambek dan Abdul Karim Amrullah.

Pembaruan Islam yang tumbuh begitu pesat didukung dengan berdirinya sekolah-sekolah pembaruan seperti Adabiah (1909), Diniyah Putri (1911), dan Sumatra Thawalib (1915).

Pada tahun 1906, Tahir bin Jalaluddin menerbitkan koran pembaruan al-Iman di Singapura dan lima tahun kemudian, di Padang terbit koran dwi-mingguan al-Munir.

Kerajaan Islam di Indonesia

kerajaan islam di indonesia

Kerajaan Islam di Indonesia menjadi salah satu jejak sejarah masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia. Kerajaan Islam sejak abad 13 Masehi telah tersebar di beberapa daerah di Indonesia.

  • Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai berdiri pada abad ke-13 Masehi, kerajaan ini merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini terletak di Aceh Utara tepatnya di kabupaten Lhokseumawe. Raja pertama kerajaan Samudera Pasai bernama Malik Al-Saleh yang sekaligus pendiri kerajaan tersebut.

  • Kerajaan Demak

Kerajaan Demak ini menjadi kerajaan Islam pertama di pulau Jawa, tepatnya di Demak, Jawa Tengah. Didirikan oleh Raden Fatah pada tahun 1478 Masehi.

  • Kerajaan Aceh Darusaalam

Kerajaan Aceh Darusaalam beridiri pada tahun 1514 Masehi dengan dipimpin oleh Sultan Ibrahim. Wilayah kerajaan Aceh Darusaalam saat ini disebut dengan nama Aceh Besar. Kerajaan ini berjaya di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda tahun 1607-1636 Masehi.

  • Kerajaan Banten

Kerajaan ini didirikan oleh Hasanuddin pada tahun 1552 di Banten. Ia adalah putra Fatahillah, seorang panglima tentara Demak.

  • Kerajaan Mataram

Kerajaan Mataram berdiri ada tahun 1582 Masehi yang berpusat di kota Yogyakarta, tepatnya di Kotagede. Raja yang pernah memimpin Kerajaan Mataram yaitu Panembahan Senopati (1584-2601 M) dan Panembahan Seda Krapyak (1601-1677 M).

  • Kerajaan Islam Pajang

Kerajaan ini didirikan oleh Jaka Tingkir pada tahun 1568 di Kelurahan Pajang, Kota Surakarta. Kerajaan Islam Pajang merupakan kelanjutan dari Kerajaan Demak.

  • Kerajaan Islam Cirebon

Kerajaan ini dimulai oleh kepemimpinan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Didirkan pada tahun 1445 di Cirebon, Jawa Barat.

  • Kerajaan Islam Banjar

Kerajaan ini didirkan oleh Raden Samudra pada tahun 1520 Masehi. Kerajaan Islam Banjar terletak di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Rukun Iman dan Rukun Islam

Rukun Iman dan Rukun Islam

Rukun iman dan rukun islam terdiri dari 6 poin. Rukun iman termasuk pondasinya Islam.

1. Iman kepada Allah

Allah SWT maha besar, Dia pencipta semua yang ada di alam semesta ini. Dia juga yang menguasai segala isi alam semesta, akhirat, dan lainnya. Tidak ada Tuhan selain Allah SWT, hanya Allah yang maha Esa, tidak ada duanya.

Meyakini Allah tidak hanya melalui kata-kata, tapi juga dibutuhkan bukti. Dari amal perbuatan, melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

2. Iman kepada malaikat

Allah dalam memberikan tugas untuk mengatur seluruh isi alam, melalui malaikat-malaikatnya. Beriman dan meyakini malaikat sebagai utusan Allah menjadi rukun iman kedua.

3. Iman kepada kitab-kitab-Nya

Allah menuliskan ajaran-Nya melalui perantara wahyu yang diturunkan lewat malaikat. Wahyu tersebut tertuang pada kitab-kitab ajaran Islam.

Kitab itu diturunkan kepada para Rasul, untuk kemudian dilanjutkan ke seluruh umat Islam. Agar dapat diamalkan seluruh umat sampai kiamat kelak.

Kitab-kitab ini sebagai pedoman dan pegangan umat di kala para rasul sudah wafat. Dengan berpedoman teguh pada kitab-kitab Allah, niscaya manusia bisa selamat dari siksa api neraka.

4. Iman kepada Nabi dan Rasul

Malaikat Jibril menyampaikan pada Nabi dan Rasul keempat kitab suci, yaitu Taurat, Zabur, Injil dan Al Quran.

Kitab Taurat diturunkan pada Nabi Musa, kita Zabur kepada Nabi Daud, kitab Injil kepada Nabi Isa, dan terakhir kitab suci Alquran diturunkan kepada nabi sekaligus Rasul terakhir, yakni Muhammad SAW.

5. Iman kepada hari akhir

Umat Islam diwajibkan percaya akan adanya hari akhir atau yang sering disebut dengan kiamat. Di mana setiap harinya, waktu demi waktu, manusia sibuk berurusan dengan urusan dunia. Akhir perjalanan manusia bukanlah kematian, melainkan kiamat itu sendiri.

Di hari akhir nanti, semua manusia akan dikumpulkan. Dibangkitkan bagi mereka yang telah mati. Segala amal perbuatan manusia ditimbang. Di manakah ia layak ditempatkan, surga atau neraka. Tak ada satu orang pun yang akan lolos dari ‘timbangan’ amal.

6. Iman kepada takdir (Qadha dan Qadar)

Allah memiliki ketetapan, kehendak, dan keputusan atas semua makhluk ciptaan-Nya. Dua kata ini kerap disandingkan jadi satu, karena Qadha dan Qadar memang tidak bisa terpisahkan. Namun menurut arti dan maknanya, dua kata punya perbedaan.

Menurut bahasa, Qadha berarti ketetapan. Menurut bahasa, Qadar berarti ketentuan atau kepastian Allah.

Itulah informasi lengkap mengenai agama Islam yang merupakan agama terbesar di Indonesia. Untuk informasi yang lebih detail kalian bisa menemukannya di portal Islam.

Semoga artikel ini dapat berguna bagi ilmu pengetahuan serta wawasan kalian. Terutama pada bidang Islam.

Avatar
Anggita Dewi Saya sangat suka dengan keberagaman budaya dan seni yang ada di Negara Indonesia.

Agama Konghucu

Avatar Anggita Dewi
4 min read

Agama Katolik

Avatar Anggita Dewi
3 min read