Daftar Slot Onlinejoker123esports indonesiaSBOBETpoker online
Nama Rumah Adat Aceh Beserta Gambar dan Penjelasan Lengkapnya
Anggita Dewi Saya sangat suka dengan keberagaman budaya dan seni yang ada di Negara Indonesia.

Rumah Adat Aceh

Rumah adat Aceh

Aceh yang merupakan salah satu pintu masuk penyebaran agama islam di Indonesia sering kali tercipta dari campur baur antara budaya Melayu dan budaya Islam. Salah satu buktinya adalah dengan adanya rumah adat Aceh.

Bangunan ini semakin langka dijumpai karena masyarakat lebih memilih beruma beton. Namun, kalian masih bisa menjumpainya di perkampungan penduduk.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai rumah adat ini, simaklah penjelasannya berikut ini.

Sekilas Informasi Mengenai Rumah Adat Aceh

Rumah krong bade berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam. Bangunan ini juga sering disebut sebagai rumoh Aceh.

Bangunan ini berbentuk persegi panjang dan memanjang dari timur ke barat. Bangunan ini memiliki tangga di depan rumah yang berfungsi untuk masuk kedalam rumah. Tinggi tangga tersebut sekitar 2,5 – 3 m dari permukaan tanah. Umumnya, anak tangga rumah ini berjumlah ganjil.

Rumah ini biasanya terbuat dari kayu dan beratap daun rumbia. Pembangunannya juga tidak menggunakan paku. Melainkan diikat kencang dengan tali. Bagian dalamnya memiliki tiga atau lima ruangan.

Sejarah Rumah Adat Provinsi Aceh

Kepercayaan individu masyarakat Aceh mempunyai pengaruh besar terhadap bentuk arsitektur bangunan, yang dibuat. Hal ini dapat dilihat pada arsitektur Rumoh Aceh. Umumnya, bangunan ini merupakan rumah panggung yang terdiri dari 3 atau 5 ruang.

Rumoh dengan tiga ruang memiliki 16 tiang, sedangkan Rumoh dengan lima ruang memiliki 24 tiang. Modifikasi dari tiga ke lima ruang atau sebaliknya bisa dilakukan dengan menambah atau menghilangkan bagian di sisi kiri atau kanan rumah.

Bagian ini biasa disebut seramoe likot atau serambi belakang dan seramoe reunyeun atau serambi bertangga, yaitu tempat masuk ke Rumah yang selalu berada di sebelah timur.

Baca Juga: Daftar Rumah Adat di Indonesia

Pintu utama dari bangunan ini tingginya selalu lebih rendah dari orang dewasa. Biasanya ketinggiannya hanya sekitar 120 – 150 cm saja. Tetapi dalam bangunan ini termasuk luas. Tidak ada perabot seperti kursi, sofa, atau meja. Tamu biasanya duduk diatas tikar yang disediakan pemilik rumah.

Bagian-bagian Rumah

  • Seuramoe-ukeu (Serambi Depan)

Seuramoe ini adalah ruangan yang berfungsi untuk menerima tamu laki-laki. Letaknya tepat di bagian depan rumah. Ruangan ini juga berfungsi sebagai tempat tidur serta tempat makan tamu laki-laki.

  • Seuramoe-likoot (Serambi Belakang)

Fungsi utama dari ruangan ini adalah tempat untuk menerima tamu perempuan. Letaknya ada di bagian belakang rumah. Serambi ini dapat menjadi tempat tidur serta ruang makan tamu perempuan.

  • Rumoh-Inong (Rumah Induk)

Ruangan ini terletak diantara serambi depan dan serambi belakang. Posisinya dibuat lebih tinggi dan terbagi menjadi 2 kamar. Keduanya dipisahkan oleh gang yang menghubungkan serambi depan dan belakang.

  • Rumoh-dapu (Dapur)

Letak dapur ini tersambung dengan serambi belakang pada bangunan ini. Lantai dapur biasanya berposisi olebih rendah dibandingkan dengan lqantai serambi belakang.

  • Seulasa (Teras)

Seulasa atau teras terletak di bagian paling depan rumah. Letaknya juga menempel dengan serambi depan. Letak teras ini memang sudah ditentukan sejak jaman dulu dan tidak berubah sampai sekarang.

  • Kroong-padee (Lumbung Padi)

Lumbung padi disediakan untuk menyimpan hasil panen. Lumbung ini letaknya terpisah dari bangunan utama namun masih berada di pekarangan rumah. Letaknya juga variatif. Nisa di belakang, samping, atau bahkan depan rumah.

  • Keupaleh (Gerbang)

Biasanya gerbang tidak terlalu umum dijumpai pada rumah adat Aceh. Gerbang biasanya dimiliki oleh kalangan orang berada atau tokoh masyarakat. Inilah salah satu ciri-ciri dari bangunan milik tokoh masyarakat tersebut. Gerbang biasanya terbuat dari kayu dan dipayungi bilik di atasnya.

  • Tamee (Tiang)

Tiang merupakan komponen paling utama yang wajib dimiliki oleh rumah adat Aceh. Kekuatan tiang ini menjadi tumpuan utama rumah ini. Tiang berbentuk bulat dengan diameter 20 – 35 cm dan setinggi 150 – 170 cm.

Jumlahnya bervariasi. Bisa 16, 20, 24, atau 28 batang. Keberadaan tiang-tiang ini juga untuk memudahkan proses pemindahan rumah tanpa harus susah payah membongkarnya.

Ciri Khas

  • Memiliki gentong air di bagian depan untuk tempat membersihkan kaki mereka yang akan masuk rumah. Ciri ini memiliki filosofi bahwa setiap tamu yang datang harus memiliki niat baik.
  • Struktur rumah panggung memiliki fungsi sebagai perlindungan angotta keluarga dari serangan binatang.
  • Memiliki tangga dan anak tangga yang berjumlah ganjil. Merupaka simbol tentang sifat religius dari masyarakat aceh.
  • Memiliki banyak ukiran dan lukisan di dinding bangunan. Menandakan masyarakatnya sangat mencintai keindahan.
  • Berbentuk persegi panjang dan membujur dari arah barat ke timur. Menandakan masyarakat Aceh adalah masyarakat yang religius.

Keunikkan Rumah Adat Aceh

  • Atapnya ditahan menggunakan tali hitam atau tali ijuk yang diikat tidak tersambung.

Hal ini dimaksdukan agar saat terjadi musibah kebakaran pada bagian atap maka pemilik rumah hanya memotong satu tali saja sehingga seluruh atap bangunan yang terhubung atau terpusat pada tali ijuk langsung jatuh dan roboh sehingga terhindar dari kebakaran kayu dan dapat meminimalisir dampak dari musibah tersebut.

  • Pembangunan rumah harus menghadap Utara dan selatan.

Ini dimaksudkan agar sinar cahaya matahari mudah masuk ke kamar baik di sisi timur ataupun barat.

  • Tahapan dalam membangun rumah adat dari Aceh

Bagi masyarakat sekitar, membangun bangunan itu seperti membangun kehidupan. Oleh karena itu, pembangunan rumah Aceh harus dilakukan secara cermat dan berlandas kepada pengetahuan lokal masyarakat.

Karena itulah bangunan ini dapat bertahan hingga ratusan tahun lamanya walaupun hanya terbuat dari kayu. Tahapan-tahapan dalam pembuatannya adalah:

  • Musyawarah

Sebelum membuat rumah, biasanya diadakan musyawarah keluarga. Setelah mencapai kesepakatan, hasil perencanaannya disampaikan kepada ulama di kampung tersebut. Tujuannya adalah untuk mendapatkan saran-saran agar rumah menjadi lebih tenang dan tentram.

Selain itu, ada juga musyawarah tentang persyaratan yang harus dilakukan. Persyaratan tersebut biasanya berupa pemilihan hari baik yang ditentukan oleh ulama, pengadaan kayu pilihan, kenduri (pesta), dan sebagainya.

  • Pengadaan Bahan

Setelah mencapai mufakat, maka bahan pun diadakan. Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat Rumoh Aceh adalah kayu, trieng (bambu), daun rumbia, dan lain-lain.

Penyediaan bahan ini dilakukan gotong royong oleh masyarakat setempat. Kayu yang dipilih biasanya adalah kayu yang tidak dililit akar dan tidak menyangkut kayu lain saat jatuh ditebang.

  • Pengolahan Bahan

Kayu-kayu tersebut lalu dikumpulkan di suatu tempat yang teduh dan tidak terkena hujan. Apabila waktu pembangunan masih lama, maka kayu akan direndam didalam air terlebih dahulu.

Tujuannya adalah agar kayu tersebut tidak dimakan serangga. Setelah itu, kayu dibentuk sesuai dengan kebutuhan rumah.

  • Pendirian Rumah

Pembangunan awal rumah adat ini ditandai dengan pembuatan landasan untuk memancangkan kayu.

Kayu yang pertama kali dipancang adalah tiang utama (tiang raja) lalu diikuti oleh tiang-tiang yang lain. setelah itu dilanjutkan dengan pembuatan bagian tengah rumah.

Bagian tengah bangunan meliputi lantai dan dinding rumah. Selanjutnya. Pembuatan bagian atas yang diakhiri sengan pemasangan atap rumah. Bagian terakhir dari pembangunan tempat ini adalah pemasangan ornamen pendukung seperti ukiran hias dan sebagainya.

Kesimpulan

Itulah beberapa informasi tentang rumah Adat dari Aceh. Bangunan ini dibangun dengan nilai-nilai dan kearifan budaya yang selalu dijaga oleh masyarakat setempat.

Avatar
Anggita Dewi Saya sangat suka dengan keberagaman budaya dan seni yang ada di Negara Indonesia.

Rumah Betang

Avatar Anggita Dewi
2 min read

Rumah Adat Yogyakarta

Avatar Anggita Dewi
1 min read

Rumah Adat Nias

Avatar Anggita Dewi
1 min read