Daftar Slot Onlinejoker123esports indonesiaSBOBETpoker onlinesbobet88
Sejarah Peradaban Suku Betawi Sebelum Hingga Setelah Masehi
Anggita Dewi Saya sangat suka dengan keberagaman budaya dan seni yang ada di Negara Indonesia.

Sejarah Suku Betawi

sejarah suku betawi

Betawi merupakan salah satu suku yang erat kaitannya dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sejarah suku Betawi pun cukup panjang dan berperan hingga kemerdekaan Indonesia.

Ciri khas suku ini sangat dipengaruhi oleh orang-orang Belanda dan China yang telah mendominasi wilayah tersebut beberapa puluh tahun yang lalu.

Namun, mungkin belum banyak dari kalian yang mengetahui bagaimana sejarah Betawi di Jakarta, karena itu, yuk kita pelajari bersama lewat artikel di bawah ini.

Orang Betawi juga merupakan sebutan bagi pribumi Jakarta yang telah mendominasi wilayah Ibukota Republik Indonesia tersebut.

Hal ini dikarenakan sejarah suku Betawi memiliki hubungan yang erat dengan banyaknya orang asing yang masuk ke daerah Jakarta, beberapa orang Betawi lalu melakukan perkawinan silang dengan orang asing tersebut.

Suku-suku atau kelompok-kelompok yang dulunya pernah tinggal di wilayah Betawi terdiri dari orang Melayu, Arab, Sunda, Jawa, Bugis, Bali, dan lain-lain.

Sehingga dari perkawinan silang itulah didapatkan kebudayaan baru yang mengambi corak / kelompok tersebut.

Asal Nama Suku Betawi

asal betawi

Asal suku Betawi menurut para ahli dan sejarahwan memiliki beberapa acuan:

  • Pitawi

Pitawi berarti larangan, perkataan ini mengacu pada komplek bangunan yang dihormati di Candi Batu Jaya.

Sejarahwan Ridwan Saidi mengaitkan bahwa kompleks bangunan di Candi Batu Jaya, Tatar Pasundan, Karawang merupakan sebuah kota suci yang tertutup, sementara Karawang merupakan kota yang terbuka.

  • Betawi

Betawi digunakan untuk menyambung giwang. Nama ini mengacu pada ekskavasi di Babelan, Kabupaten Bekasi, yang banyak ditemukan giwang dari abad ke-11 M.

  • Flora Guling Betawi

Merupakan jenis tanaman perdu yang kayunya bulat seperti guling dan mudah diraut serta kukuh. Dulunya, jenis batang pohon betawi banyak digunakan untuk pembuatan gagang senjata keris atau gagang pisau.

Tanaman guling Betawi ini banyak tumbuh di Nusa Kelapa dan beberapa daerah di pulau Jawad an Kalimantan.

Kemungkinan, nama suku Betawi yang berasal dari jenis tanaman pepohonan ada benarnya. Menurut sejarahwan Ridwan Saidi, beberapa nama jenis flora memang selama ini digunakan pada pemberian nama tempat atau daerah yang ada di Jakarta.

Kemudian, penggunaan kata Betawi sebagai sebuah suku yang pada masa hindia Belanda diawali dengan pendirian sebuah organisasi bernama Pemoeda Kaoem Betawi yang lahir pada 1923.

Sejarah Suku Betawi Periode Sebelum Masehi

betawi sebelum masehi

Sejarah awal suku Betawi diawali pada masa zaman batu yang menurut sejarahwan Sagiman MD sudah ada sejak zaman neolitikum.

Arkeolog Uka Tjandarasasmita dalam monografinya secara arkeologis telah memberi bukti-bukti kuat dan ilmiah mengenai sejarah penghuni Jakarta dan sekitarnya dari masa sebelum Tarumanagara di abad ke-5.

Dikemukakan bahwa paling tidak sejak zaman neolitikum atau batu baru, daerah Jakarta dan sekitarnya sudah didiami oleh masyarakat yang menyebar hampir di seluruh Jakarta.

Dari alat-alat yang ditemukan di situs-situs itu, seperti kapak, beliun, pahat, pacul ayng sudah diumpan halus dan menggunakan gagang kayu, disimpulkan bahwa masyarakat sudah mengenal pertanian dan peternakan.

Bahkan juga mungkin telah mengenal struktur organisasi kemasyarakatan yang teratur. Sementara itu, ada yang berpendapat bahwa penduduk asli Betawi adalah penduduk Nusa Jawa.

Menurutnya, dulu penduduk di Nusa Jawa merupakan satu kesatuan budaya. Bahasa, kesenian, dan adat kepercayaan mereka sama.

Ia menyebutkan berbagai sebab dan kemudian menjadikan mereka sebagai suku bangsa sendiri-sendiri. Pertama, mucnulnya kerajaan pada zaman sejarah.

Kedua, kedatangan dan pengaruh penduduk dari luar Nusa Jawa. Dan terakhir perkembangan ekonomi daerah masing-masing.

Penduduk asli Betawi berbahasa Kawi atau Jawa Kuno. Di antara penduduk juga mengenal huruf hanacaraka. Jadi, penduduk asli Betawi telah berdiam di Jakarta dan sekitarnya sejak zaman dahulu.

Sejarah Suku Betawi Periode Setelah Masehi

betawi setelah masehi

Periode Awal

  • Abad ke 2

pada abad ke-2, menurut Yahya Andi Saputra Jakarta dan sekitarnya termasuk wilayah kekuasaan Kerajaan Salakanagara atau Holoan yang terletak di kaki Gunung Salak, Bogor.

Penduduk asli Betawi adalah rakyat Kerajaan Salakanagara. Pada zama itu perdangangan China telah maju. Bahkan, pada 432 M Salakanagara telah mengirim utusan dagang ke Tiongkok.

  • Abad ke-5

pada akhir abad ke-5, berdiri kerajaan Hindu Tarumanagara di tepi sungai Citarum. Menurut Yahya, ada yang menganggap Tarumanagara merupakan kelanjutan Kerajaan Salakanagara.

Hanya saja, ibu kota kerajaan dipindahkan dari kaki gunung salak ke tepi sungai Citarum. Penduduk asli Betawi menjadi rakyat kerajaan Tarumanagara.

Tepatnya letak ibu kota kerajaan di tepi sungai Candrabhaga yang diidentifikasikan dengan sungai Bekasi.

Di sinilah, letak istana Tarumanagara yang masyur. Raja Hindu saat itu mendirikan bendungan di tepi kali Bekasi dan Kalimati.

Sejak saat itu, rakyat Tarumanagara mengenal persawahan menetap. Pada zaman Tarumanagara kesenian mulai berkembang.

Petani Betawi juga membuat orang-orangan sawah untuk mengusir burung. Orang-orangan sawah ini diberikan baju dan topi yang hingga kini masih bisa kita lihat di sawah menjelang panen.

Petani suku Betawi menyanyikan lagu sambil menggerakan tangan orang-orangan sawah tersebut. Jika panen tiba petani bergembira, begitupun dengan nelayan saat panen laut.

  • Abad ke-7

pada abad ke-7, kerajaan Tarumanagara ditaklukkan Kerajaan Sriwijaya yang beragama Buddha. Di zaman kekuasaan Sriwijaya berdatangan penduduk Melayu dari Sumatra.

Mereka lalu mendirikan permukiman di pesisir Jakarta. Kemudian, Bahasa Melayu menggantikan kependudukan bahawa Kawi sebagai Bahasa pergaulan.

Ini disebabkan terjadinya perkawinan antara penduduk asli dengan pendatang Melayu. Bahasa Melayu awalnya hanya digunakan di daerah pesisir saja kemudian meluas sehingga ke daerah kaku Gunung Salak dan Gunung Gede.

  • Abad ke-10

pada abad ke-10, terjadi persaingan antara orang Melayu, dimana Kerajaan Sriwijaya dengan Orang Jawa yang merupakan Kerajaan Kediri berperang dan membawa Tiongkok ikut campur sebagai penengah karena perniagaan mereka terganggu.

Perdamaian tercapai, kendali lautan di bagi 2, sebelah Barat mulai dari Cimanuk dikendalikan Sriwijaya, sebelah timur mulai dari Kediri dikendalikan raja Kediri.

Sriwijaya kemudian meminta mitranya, Syailendra di Jawa Tengah untuk membantu mengawasi perairan territorial Sriwijya di Jawa bagian Barat. Namun ternyata Syailendra mengabaikannya.

Karena itu, Sriwijaya mendatangkan migran suku MelayuKalimantan Barat ke Kalapa. Pada periode itulah terjadi persebaran Bahasa Melayu di Kerajaan Kalapa lalu Bahasa Melayu yang mereka bawa mengalahkan Bahasa Sunda Kawi sebagai lingua franca di kerajaan Kalapa.

Periode Kolonialisasi Eropa

  • Abad ke-16

perjanjian antara Surawisesa dengan bangsa Portugis pada 1512 yang memperbolehkan Portugis untuk membangun suatu komunitas di Sunda Kalapa mengakibatkan perkawinan campuran antara penduduk local dengan bangsa Portugis yang menurunkan darah campuran Portugis,

Dari komunitas ini lahir musik keroncong atau Keroncong Tugu. Setelah VOC menjadikan Batavia sebagai pusat kegiatan niaganya, Belanda memerlukan banyak tenaga untuk membuka lahan pertanian dan membangun roda perekonomian kota ini.

Saat itu, VOC banyak membeli budak dari penguasa Bali, karena saat itu Bali masih melangsungkan praktik perbudakkan.

Itulah kenapa masih tersisa kosakata dan tata Bahasa Bali dalam Bahasa Betawi saat ini. Kemajuan perdagangan Batavia menarik berbagai suku bangsa dari penjuru Nusantara hingga Tiongkok, Arab, dan India untuk bekerja di kota ini.

Pengaruh suku bangsa pendatang asing terlihat jelas dalam busana pengantin suku Betawi yang banyak dipengaruhi unsur arab dan Tiongkok.

Berbagai nama tempat di Jakarta juga menyisahkan petunjuk sejarah mengenai datangnya berbagai suku bangsa ke Batavia, Kampung Melayu, Kampung Bali, Kampung Ambon, Kampung Jawa, Kampung Makassar, dan Kampung Bugis.

  • Abad ke-19

Abad ke-19 ini merupakan zaman di mana si pitung Betawi hadir serta menciptakan berbagai legenda tentang riwayat hidup hingga kematiannya.

Pada April 1967, di majalah Indonesia terbitan Cornell University, Amerika, sejarahwan Australia, Lance Castles mengumumkan penelitiannya menyangkut asal usul orang Betawi.

Hasilnya menyebutkan bahwa orang suku Betawi terbentuk pada sekitar pertengahan abad ke-19 sebagai hasil proses [eleburan dari berbagai kelompok etnis yang menjadi budak di Batavia.

Secara singkat, sketsa sejarah terjadinya orang Betawi menurut Castles dapat ditelusuri dari:

  • Daghregister, yaitu catatan harian tahun 1673 yang dibuat Belanda yang berdiam di dalam kota benteng Batavia.
  • Catatan Thomas Stanford Raffles dalam History of Java pada tahun 1815.
  • Catatan penduduk pada Encyclopaedia van Nederlandsch Indie tahun 1893
  • Sensus penduduk yang dibuat pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1930.

Karena klasifikasi penduduk dalam keempat catatan itu relative sama, maka ketiganya dapat diperbandingkan, untuk memberikan gambaran perubahan komposisi etnis di Jakarta sejak awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebaai hasil rekonstruksi, angka-angka tersebut mungkin tidak mencerminkan situasi yang sebenarnya, namun menurut Castles hanya itulah data sejarah yang tersedia dan relative meyakinkan walau hasil kajiannya mendapat kritikan.

Di zaman colonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, yang dibuat berdasarkan bangsa aau golongan etnisnya.

Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, namun tak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi.

Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moor, orang Melayu, Bali, Jawa Sunda, dan lain-lain.

Kemungkinan ke semua suku bangsa Nusantara dan Arab Moor ini dikategorikan ke dalam kesatuan penduduk pribumi di Batavia yang kemudian terserap ke dalam kelompok etnis Betawi.

  • Abad ke-20

pada zaman colonial Belanda tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia saat itu.

Namun, menurut Uka Tjandarasasmita, penduduk asli Jakarta telah ada sejak 3500-3000 tahun sebelum masehi.

Antropolog UI menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompo etnis itu juga belum mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari mereka lebih sering menyebutkan diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka.

Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan social dan politik dalam lingkup yang lebih luas, Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat husni Thamrin, tokoh Betawi mendirikan Pemoeda Kaoem Betawi.

Barulah pada saat itu segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yaitu golongan orang Betawi.

Dr.Yasmine berpendapat bahwa hingga beberapa waktu lalu penduduk asli Jakarta menidentifikasikan dirinya sebagai orang Melayu.

Setelah 1970-an yang merupakan titik balik kebangkitan kebetawian di Jakarta telah terjadi pergeseran lebel dari Melayu ke Betawi.

Ada juga yang berpendapat bahwa orang Betawi tak hanya mencangkup masyarakat campuran dalam banteng Batavia namun juga mencangkup penduduk luar banteng tersebut yang disebut proto Betawi.

  • Setelah Kemerdekaan

sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah kemerdekaan 1945, Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang suku betawi tinggal sebagai minoritas.

Pada 1961, suku Betawi mencangkup kurang lebih 22,9 persen dari antara 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu.

Mereka semakin terdesak ke pinggiran bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Proses asimilasi dari berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui proses panjang. Hal ini juga yang menjadi salah satu latar belakang suku Betawi hadir.

Kesimpulan

Itulah informasi lengkap mengenai sejarah suku Betawi yang dapat kami sampaikan. Dengan adanya artikel ini, diharapkan pengetahuan kalian semakin bertambah luas. Semoga artikel ini bermanfaat.

Avatar
Anggita Dewi Saya sangat suka dengan keberagaman budaya dan seni yang ada di Negara Indonesia.