Daftar Slot Onlinejoker123esports indonesiaSBOBETpoker onlinesbobet88Daftar joker123
Sejarah Surabaya: Penjelasan dan Gambar Lengkapnya
Anggita Dewi Saya sangat suka dengan keberagaman budaya dan seni yang ada di Negara Indonesia.

Sejarah Surabaya

sejarah kota surabaya

Kota Surabaya yang merupakan ibukota provinsi Jawa Timur, Indonesia, sekaligus kota metropolitan terbesar kedua di provinsi tersebut.

Surabaya terkenal dengan sebutan “kota pahlawan” karena sejarah Surabaya yang sangat diperhitungkan dalam perjuangan Arek-Arek Suroboyo (pemuda-pemuda Surabaya) dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dari serangan penjajah.

Surabaya juga menjadi kota terbesar di Hindia Belanda dan menjadi pusat niaga di Nusantara yang sejajar dengan Hong Kong dan Shanghai pada masanya.

Sejarah Kota Surabaya

Sejarah Surabaya memiliki banyak versi, seperti:

1. Diambil dari kata Sura dan Buaya

Umumnya, masyarakat Kota Surabaya menyebut nama Surabaya dari kata Sura dan Baya. Paduan kata ini mempunyai arti “berani menghadapi tantangan”. Ada juga yang menyebutnya Cura Bhaya.

Berdasarkan filosofi kehidupan, warga Surabaya yang hidup di wilayah pantai, Sura (Suro) dan Baya (Boyo), menggambarkan dua perjuangan hidup antara darat dan laut.

Di masing-masing alam terdapat penguasa dengan habitat bertetangga yang berbeda, namun mereka dapat bertemu di muara sungai. Dua makhluk itu adalah Ikan Sura (Suro) dan Buaya (Boyo).

Lambang tersebut sekaligus memberikan gambaran tentang warga Surabaya yang dapat menyatu, walaupun asalnya berbeda.

Sama halnya dengan warga Surabaya, mereka berasal dari berbagai suku, agama, etnis, dan ras. Namun tetap dapat hidup rukun dalam bermasyarakat.

Menurut sejarah Surabaya, hasil penelitian menunjukkan bahwa nama Surabaya awalnya adalah Curabhaya yang ditemukan pada prasasti Trowulan I dari tahun Caka 1280 atau 1358 M.

Didalam prasasti itu tertulis Curabhaya termasuk kelompok desa di tepi sungai Brantas sebagai tempat penambangan yang dahulu sudah ada (nadira pradeca nguni kalanyang ajnahaji pracasti)

Dalam sejarah Surabaya, namanya Surabaya sendiri terdapat pada buku milik Empu Prapanca: Kakawin Negarakartagama tahun 1365M. Pada bait 5 disebutkan: Yen ring Janggala lok sabha n rpati ring Surabhaya terus ke Buwun. Artinya, Jika di Jenggala ke laut, raja tinggal di Surabaya terus ke Buwun. Jenggala adalah Sidoarjo dan Buwun adalah Bawean.

2. Surapringga

Walau bukti tertulis bahwa tertua mencantumkan nama Surabaya berangka tahun 1358 M (Prasasti Trowulan) dan 1365 M (Nagarakretagama), para ahli menduga bahwa wilayah Surabaya sudah ada bertahun-tahun sebelum tahun tersebut.

Menurut pendapat budayawan Surabaya berkebangsaan Jerman Von Faber, wilayah Surabaya didirikan tahun 1275 M oleh Raja Kertanegara sebagai tempat permukiman baru bagi para prajuritnya yang berhasil menumpas pemberontakan kemuruhan pada tahun 1270 M.

Cerita ini menyebutkan bahwa Surabaya semula berasal dari Junggaluh, Ujunggaluh, atau Hujunggaluh. Tetapi, dalam sejarah pemerintahan regent atau kebupatian (kabupaten), serta keadipatian (kepatihan) Surabaya disebut Surapringga.

Dari berbagai sumber, terungkap bahwa salah satu kepala pemerintahan yang cukup melegenda adalah Adipati Jayengrono. Kerabat kerajaan Mojopahit ini diberi kekuasaan untuk memerintah di Ujunggaluh.

Konon, terjadi perkelahian hidup-mati antara Adipati Jayengrono dan Sawunggaling. Setelah mengalahkan pasukan Kekaisaran Monggol utusan Kubilai Khan atau yang lebih dikenal dengan pasukan Tartar, Raden Wijaya mendirikan sebuah keraton di daerah Ujung Galuh dan menempatkan Adipati Jayenggrono untuk memimpin daerah itu.

Setelah menguasai ilmu buaya, Jayenggrono semakin kuat dan mandiri hingga mengancam kedaulatan Kerajaan Majapahit.

Di bawah pemerintahan Jayengrono, perkembangan pesat Ujunggaluh sebagai pelabuhan pantai terus menarik perhatian bangsa lain untuk berniaga di sini.

Untuk menaklukan Jayenggrono, maka diutuslah Sawunggaliang yang menguasai ilmu Sura. Mereka adu kesaktian di pinggir Kali Mas, di wilayah Peneleh.

Baca Juga: Sejarah Kota Malang

Perkelahian itu berlangsung selama 7 hari 7 malam dan berakhir dengan tragis, karena keduanya meninggal setelah kehilangan tenaga.

Anehnya, ternyata sejarah Surabaya ini terputus-putus. Jika sebelumnya Surabaya dianggap sebagai penjelmaan dari Hujunggaluh atau Ujunggaluh, namun belum ada satupun ahli sejarah menemukan sejak kapan nama tersebut “hilang” dan sejak kapan pula nama Surabaya, benar-benar mulai dipakai sebagai pengganti Hujunggaluh.

Perkiraan sementara, hilangnya nama Hujunggaluh itu pada abad ke-14. Kemudian mengapa nama Surapringga tidak begitu populer.

3. Mitos Cura-bhaya

Sumber lain mengatakan bahwa nama Surabaya berasal dari buku kecil yan diterbitkan PN. Balai Pustaka tahun 1983, tulisan Soenarto Timoer, mengungkan cerita rakyat sebagai sumber penelitian sejarah.

Bukunya berjudul: Menjelajahi Jaman Bahari Indonesia “Mitos Cura-Bhaya”. Dari tulisan sepanjang 61 halaman itu, Soenarto Timoer membuat kesimpulan, bahwa hari jadi Surabaya harus dicari antara tahun-tahum 1334, saat meletusnya Gunung Kelud dan tahun 1352 saat kunjungan Raja Hayam Wuruk ke Surabaya (sesuai Nagarakertagama, Pupuh XVII:5).

Surabaya tidak bisa dilepaskan dari nama semula Hujunggaluh, karena perubahan nama menunjukkan adanya suatu motif.

Motif tersebutlah yang dapat menunjukkan perkiraan kapan perubahan itu terjadi. Bahwa Hujunggaluh itu adalah Surabaya yang sekarang dapat diteliti dan ditelusuri berdasarkan makna namanya, lokasi dan arti kedudukannya dalam percaturan negara.

Nama “Hujung” berarti ujung tanah yang menjorok ke laut. dapat dipastikan wilayah ini berada di pantai. “Galuh” berarti emas. Dalam purbacaraka, galuh sama artinya dengan perak.

Jadi, Hujunggaluh bisa diartika sebagai hujung emas atau hujung perak. Sekarang, nama tersebut menjadi Tanjung Perak yang terletak di muara sungai atau Kali Emas (Kalimas).

Namun, hingga sekarang belum ada satupun prasasti atau data otentik yang resmi menyebut perubahan nama Hujunggaluh menjadi Surabaya.

4. Jung Ya Lu dan Suyalu

Kendati sudah meyakini bahwa Junggalih atau Hujunggaluh merupakan cikal bakal kota Surabaya. Ternyata, tentang lokasinya pernah menjadi perdebatan. Peristiwa itu terjadi saat pembahasan penetapan perubahan hari jadi kota Surabaya pada tahun 1975.

Pembahasan mengenai lokasinya diperoleh dari beberapa pendapat. Prof.Dr.N.J.Krom, sebagai salah satu sumber menyitir nama Junggaluh dari sejarah Tiongkok.

Pendapat ini diperkuat pula oleh Drs.Oei Soen Nio, dosen sejarah Tiongkok dari Seksi Sinologi Jurusan Asia Timur, Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Nama Junggaluh itu disebutkan dalam ejaan Cina tertulis, kata Sugalu. Kata Sugalu itu menurut mereka harus dibaca Jung Ya Lu. Nah, dengan demikian maka ucapannya lebih mendekati Junggaluh daripada Sedayu.

Masalahnya. Ada pula ahli sejarah yang menerjemahkan kata Sugalu itu sebagai Sedayu, yaitu suatu nama desa di Kabupaten Gresik sekarang.

Pendapat Prof Dr. Suwoyo Woyowasito lain lagi. Menurut guru besar ini, tidak menyebut Sugalu, tetapi Suyalu.

Dengan dasar perkembangan bunyi, telah dapat membuktikan bahwa Suyalu adalah perubahan bunyi lafal Tionghoa dari kata Junggaluh atau Hujunggaluh.

Suatu data lagi mengungkapkan, bahwa Shihpi, salah seorang panglima tentara Tartar yang semula mendarat di Tuban. Setelah tiba di Su-ya-lu memerintahkan tiga pejabat tinggi dengan naik perahu cepat ke jembatan terapung Majapahit (the floating bridge of Majapahit).

Ke tiga pejabat tinggi yang berangkat dari Su-ya-lu tersebut melalui sungai menuju ke pusat kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto.

Kenyataan ini membuktikan, bahwa sungai yang dilalui adalah Kali Brantas, bukan Bengawan Solo. Bahkan dapat dikatakan bahwa Su-ya-lu terdapat di pantai dan muara Kali Brantas.

Ini juga sesuai dengan faktor dari sumber Prasasti Kelagen (1037 AD) yang dilengkapi dengan faktor dari buku Chu-fan-Chi-kua (1220 AD). Pada buku itu dinyatakan bahwa Hujunggaluh terletak di pantai dan muara Kali Surabaya.

Dengan demikian, para anggota Panitia Khusus (Pansus) menetapkan hari jadi Surabaya yang kemudian didukung oleh pleno DPRD Kota Surabaya tahun 1975 itu, sependapat bahwa: “Su-ya-lu sama dengan Hujunggaluh yang terletak di pantai, di muara Kali Surabaya dan tidak sama dengan Sedayu yang sekarang terletak di tepi sungai Bengawan Solo, dengan muaranya yang baru di Ujung Pangkah, Gresik.”

Fakta ini juga diperkuat berdasarkan kidung Harsa Wijaya yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut: “Mangke wus wonten Jung Galuh sampun akukuto lor ikang Tegal Bobot Sekar sampun cirno linurah punang deca tepi siring ing Canggu”.

Artinya: “Sekarang (tentara Tartar) sudah ada di Jung Galuh dan sudah membuat benteng sebelah utara Tegal Bobot Sekar (sari) dan para lurah desa di wilayah Canggu sudah musnah.” – Tegal Bobot Sekar atau Tegal Bobot Sari, sekarang menjadi Kecamatan Tegalsari di Kota Surabaya.

Sejarah Pertempuran Surabaya

1. Era Prakolonial

Wilayah Surabaya dulunya merupakan gerbang utama untuk memasuki ibu kota Kerajaan Majapahit dari arah lautan. Yakni di muara Kali Mas. Bahkan, hari jadi Kota Surabaya ditetapkan pada tanggal 31 Mei 1293.

Hari itu sebenarnya merupakan hari kemenangan pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Raden Wijaya terhadap serangan pasukan Mongol.

Pasukan Mongol berasal dari laut dan digambarkan sebagai SURA (ikan hiu / berani) dan pasukan Raden Wijaya yan datang dari darat digambarkan sebagai BAYA (Buaya / bahaya).

Secara harfiah diartikan berani menghadapi bahaya yang datang mengancam. Maka hari kemenangan itu diperingati sebagai hari jadi Surabaya.

2. Era Kemerdekaan

Setelah perang dunia II usai, pada 25 Oktober 1945, 6.000 pasukan Inggris-India yang dipimpin Bigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby mendarat di Surabaya dengan perintah utama melucuti tentara Jepang, tentara dan milisi Indonesia.

Mereka juga bertugas mengurus bekas tawanan perang dan memulangkan tentara Jepang. Pasukan Jepang menyerahkan semua senjata mereka, tetapi milisi dan lebih dari 20.000 pasukan Indonesia menolak.

Pada 26 Oktober 1945, tercipta persetujuan antara R.M. Soerjo, Gubernur Jawa Timur dengan Brigjen Mallaby bahwa pasukan Indonesia dan milisi tidak harus menyerahkan senjata mereka. Sayangnya terjadi salah pengertian antara pasukan Inggris di Surabaya dengan markas tentara Inggris di Jakarta yang dipimpin Letnan Jenderal Philip Christison.

27 Oktober 1945, pesawat Dakota Angkatan Udara Inggris dari Jakarta menjatuhkan selebaran di Surabaya yang memerintahkan semua tentara Indonesia dan milisi untuk menyerahkan senjata. Para pimpinan tentara dan milisi Indonesia menjadi marah ketika membaca selebaran ini dan menganggap Brigjen Mallaby tidak menepati perjanjian kemarin.

28 Oktober 1945, pasukan Indonesia dan milisi menggempur pasukan Inggris di Surabaya. Untuk menghindari kekalahan di Surabaya, Brigjen Mallaby meminta agar Presiden RI Soekarno dan panglima pasukan Inggris Divisi 23, Mayor Jenderal Douglas Cyril Hawthorn untuk pergi ke Surabaya dan mengusahakan perdamaian.

29 Oktober 1945, Presiden Soekarno ditemani Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin bersama Mayjen Hawthorn pergi ke Surabaya untuk berunding.

Pada siang hari 30 Oktober 1945, dicapai persetujuan yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno dan Panglima Divisi 23 Mayjen Hawthorn. Isi perjanjian tersebut adalah diadakan perhentian tembak menembak dan pasukan Inggris akan ditarik mundur dari Surabaya secepatnya. Mayjen Hawthorn dan para pimpinan RI tersebut meninggalkan Surabaya dan kembali ke Jakarta.

Pada sore hari, 30 Oktober 1945, Brigjen Mallaby berkeliling ke berbagai pos pasukan Inggris di Surabaya untuk memberitahukan soal persetujuan tersebut.

Saat mendekati pos pasukan Inggris di gedung Internatio, dekat Jembatan Merah, mobil Brigjen Mallaby dikepung oleh milisi yang sebelumnya telah mengepung gedung Internatio.

Karena mengira komandannya akan diserang oleh milisi, pasukan Inggris kompi D yang dipimpin Mayor Venu K. Gopal melepaskan tembakan ke atas untuk membubarkan para milisi.

Para milisi mengira mereka diserang / ditembaki tentara Inggris dari dalam gedung Internatio dan balas menembak. Seorang perwira Inggris, Kapten R.C. Smith melemparkan granat ke arah milisi Indonesia, tetapi meleset dan jatuh tepat di mobil Brigjen Mallaby.

Granat meledak dan mobil terbakar. Akibatnya Brigjen Mallaby dan sopirnya tewas. Laporan awal yang diberikan pasukan Inggris di Surabaya ke markas besar pasukan Inggris di Jakarta menyebutkan Brigjen Mallaby tewas ditembak oleh milisi Indonesia.

Letjen Philip Christison marah besar mendengar kabar kematian Brigjen Mallaby tersebut dan mengerahkan 24.000 pasukan tambahan untuk menguasai Surabaya.

9 November 1945, Inggris menyebarkan ultimatum agar semua senjata tentara Indonesia dan milisi segera diserahkan ke tentara Inggris, tetapi ultimatum ini tidak diindahkan.

10 November 1945, Inggris mulai membom Surabaya dan perang sengit berlangsung terus menerus selama 10 hari. Dua pesawat Inggris ditembak jatuh pasukan RI dan salah seorang penumpang, Brigadir Jenderal Robert Guy Loder-Symonds terluka parah dan meninggal keesokan harinya.

20 November 1945, Inggris berhasil menguasai Surabaya dengan korban ribuan orang prajurit tewas. Lebih dari 20.000 tentara Indonesia, milisi dan penduduk Surabaya tewas. Seluruh kota Surabaya hancur lebur.

Pertempuran ini merupakan salah satu pertempuran paling berdarah yang dialami pasukan Inggris pada dekade 1940-an. Pertempuran ini menunjukkan kesungguhan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengusir penjajah.

Karena sengitnya pertempuran dan besarnya korban jiwa, setelah pertempuran ini, jumlah pasukan Inggris di Indonesia mulai dikurangi secara bertahap dan digantikan oleh pasukan Belanda. Pertempuran pada tanggal 10 November 1945 tersebut hingga saat ini dikenang dan diperingati sebagai Hari Pahlawan.

3. Era Pasca-Kemerdekaan

Kota yang jalan utamanya dulu hampir berbentuk seperti pita dari jembatan Wonokromo di sebelah Selatan menuju ke Jembatan Merah tersebut, di akhir tahun 1980-an mulai berubah total.

Pertambahan penduduk dan urbanisasi yang pesat, memaksa Surabaya untuk berkembang ke arah Timur dan Barat seperti yang ada sekarang.

Bertambahnya kendaraan bermotor, tumbuhnya industri baru serta menjamurnya perumahan yang dikerjakan oleh perusahaan real estate yang menempati pinggiran kota mengakibatkan tidak saja terjadi kemacetan di tengah kota tapi juga tidak jarang terjadi pula di pinggiran kota.

Surabaya telah berkembang jauh dari kota yang relatif kecil dan kumuh di akhir abad ke-19, menjadi kota metropolitan di akhir abad ke-20 dan pada kurun abad ke-21 menjadi salah satu metropolitan dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara.

Kota yang pada kurun abad ke-20 dan awal abad ke-21 dipandang panas dan kumuh ini juga berhasil berubah menjadi salah satu kota metropolitan yang paling tertata di Indonesia dengan kualitas udara terbersih.

Sejarah Jembatan Merah Surabaya

Pada abad ke-15, Islam mulai menyebar di daerah Surabaya. Salah satu anggota Walisongo, Sunan Ampel mendirikan mesjid dan pesntren di wilayah Ampel. Tahun 1530, Surabaya menjadi bagian dari Demak.

Menyusul runtuhnya Demak, Surabaya menjadi sasaran penaklukan Kesultanan Mataram, diserbu Panembahan Senopati tahun 1598, diserang besar-besaran oleh Panembahan Seda ing Krapyak tahun 1610, dan diserang Sultan Agung tahun 1614.

Pemblokan aliran Sungai Brantas oleh Sultan Agung akhirnya memaksa Surabaya menyerah.

Suatu tulisan VOC tahun 1620 menggambarkan, Surabaya sebagai wilayah yang kaya dan berkuasa. Panjang lingkarannya sekitar 37 km, dikelilingi kanal dan diperkuat meriam. Tahun tersebut, untuk melawan Mataram, tentaranya sebanyak 30.000 prajurit.

Tahun 1675, Trunojoyo dari Madura merebut Surabaya, namun akhirnya didepak VOC pada tahun 1677

Dalam perjanjian antara Pakubuwono II dan VOC pada tanggal 11 November 1743, Surabaya diserahkan penguasaannya kepada VOC.

Gedung pusat pemerintahan Karesidenan Surabaya berada di mulut sebelah barat Jembatan Merah.

Jembatan inilah yang membatasi permukiman orang Eropa (Europeesche Wijk) waktu itu, yang ada di sebelah barat jembatan dengan tempat permukiman orang Tionghoa, Melayu, Arab, dan sebagainya (Vremde Oosterlingen), yang ada di sebelah timur jembatan tersebut.

Hingga tahun 1900-an, pusat kota Surabaya hanya berkisar di sekitar Jembatan Merah saja. Dan jembatan ini disebut sebagai tempat sejarah di Surabaya.

Itulah sejarah singkat pertempuran Surabaya yang bertarung hingga titik darah penghabisan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dengan mengetahui sejarah Surabaya ini, hendaknya kita sebagai warga Indonesia selalu mengenang dan menghargai jasa mereka yang berjuang.

Avatar
Anggita Dewi Saya sangat suka dengan keberagaman budaya dan seni yang ada di Negara Indonesia.