Daftar Slot Onlinejoker123esports indonesiaSBOBETpoker onlinesbobet88
Tari Bedhaya Ketawang: Pengertian, Sejarah dan Maknanya
Anggita Dewi Saya sangat suka dengan keberagaman budaya dan seni yang ada di Negara Indonesia.

Tari Bedhaya Ketawang

informasi tentang tari bedhaya ketawang

Tari Bedhaya Ketawang merupakan sebuah kesenian keraton yang sampai sekarang masih dilestarikan. Seni ini mengandung tuntutan (pendidikan) filsafat melalui gerak, irama, rasa, dan ekspresi dari para penarinya.

Menurut Sylvain Levi dalam bukunya “Theatre Indien”, para penari Bedhaya harus memenuhi 2 persyaratan, yaitu: pertama, mengenal cerita rakyat, legenda daerah, sajak, dan pengetahuan mengenai lakok-lakon utama.

Yang kedua penari harus mengenal sejarah tanah air, makna dari setiap intonasi, dan naik turunnya gamelan yang semuanya terdapat dalam cerita-cerita kuna.

Pengertian Tari Bedhaya Ketawang

Kesenian ini merupakan sebuah tari kebesaran yang hanya dipertunjukkan ketika penobatan serta Tingalandalem Jumenengan Sunan Surakarta (upacara peringatan kenaikan tahta raja).

Nama tari ini berasal dari kata bedhaya yang berarti penari wanita di istana. Sedangkan ketawang berarti langit, identik dengan sesuatu yang tinggi, keluhuran, dan kemuliaan.

Tarian khas Bedhaya menjadi kesenian sakral yang suci karena menyangkut Ketuhanan, di mana segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Sejarah Tari Bedhaya Ketawang

Ada beberapa versi yang menyebutkan bagaimana sejarah awal tarian ini, seperti:

1. Menurut R.T Warsadiningrat (seorang abdidalem niyaga keratin Surakarta)

Menurut R.T Warsadiningrat, awalnya tari ini diperagakan oleh 7 orang penari. Lalu, Kanjeng Ratu Kidul-lah yang menambahkan 2 orang penari lagi, sehingga total penari menjadi 9 orang.

Menurutnya, tari Bedhaya Ketawang diciptakan oleh Bathara Guru pada tahun 167. Semula, disusunlah satu formasi yang terdiri dari 7 orang. Mereka menarikan tarian Lenggotbawa dengan iringan Gamelan berlaras pelog pathet lima.

2. Menurut GPH.Kusumadiningrat

Menurutnya, tarian ini diciptakan oleh Bathara Wisnu saat duduk di Balekembang Kahyangan Utarasegara.

7 buah permata yang indah kemudian dipuja dan berubah wujud menjadi tujuh bidadari. Kemudian, bidadari itu menari mengitari Bathara Wisnu dari arah kanan.

3. Menurut Sultan Pakubuwana X

Tari Bedhaya Ketawang merupakan kesenian yang diciptakan sebagai lambang cinta Kanjeng Ratu Kidul (Ratu Kecanasari) pada penembah Senapati, raja kesultanan Mataram ke-1, ketika beliau bermunajat di Pantai Parangkusuma.

Semua gerakannya menggambarkan bujuk rayu, tetapi selalu ditolak oleh Panembahan Senapati. Maka, Ratu Kidul pun memohon agar Panembahan Senapati tidak pergi dan menetap di Samudera Kidl serta bersinggasana di Sakadhomas Bale Kencana.

Panembahan Senapati tidak menuruti kehendak Ratu Kidul, namun sebagai gantinya beliau berkenan memperistri Ratu Kidul secara turun-temurun.

Sebaliknya, jika sewaktu-waktu Panembahan Senapati dan seluruh raja-raja Dinasti Mataram keturunannya meneylenggarakan pergelaran Tari Bedhaya Ketawang, maka Ratu Kidul diminta datang ke daratan untuk mengajarkan Tari ini pada para abdidalem bedhaya (penari keraton).

4. Menurut Sri Sekar Setyosih, S.Kar., M.Sn. (Dosen Prodi Seni Tari Institut Seni Indonesia Surakarta, 2017)

Mengacu pada kitab Wedhapradangga, seni ini diciptakan oleh seorang Sultan Agung Hayakrakusuma, raja kesultanan Mataram ke-4. Ketika itu, Sultan Agung sedang bersemedi, beliau lalu mendengar sayup-sayup suara tiupan angin yang mengenai angkup (sejenis binatang yang berterbangan).

Saat Sultan Agung Hanyakrasuma menyermatinya, suara tersebut terdengar seperti suara kemanak Gamelan Lokananta (gamelan khayangan). Seketika itu pula terdengar senandung gaib yang menyuarakan lagu indah yang agung dan berwibawa.

Hal ini membuat Sultan Agung Hanyakrasuma terpesona. Paginya, beliau memanggil para empu karawitan untuk membuat gendhing yang mengacu pada kejadian yang dialami beliau sewaktu bersemedi.

Konon katanya, saat proses penyusunan gendhing, Sultan Agung Hanyakrasumadidatangi oleh Sunan Kalijaga secara gaib. Beliau mengetahui niat Sultan Agung Hanyakrasuma untuk membuat gendhing bedhaya dan menyatakan turut berbahagia.

Sunan Kalijaga bahkan mengatakan bahwa karya tersebut akan menjadi pusaka luhur para raja-raja Dinasti Mataram keturunan Sultan Agung Hanyakrasuma.

Beliau juga berpesan untuk menyembunyikan gendhing tersebut saat hari Anggara Kasih agar raja dan rakyat senantiasa dalam keadaan damai.

Setelah Gendhing Ketawang tercipta, untuk menarikan Tari Bedhaya Ketawang, Sultan Agung Hanyakrasuma mengkehendaki delapan orang penari yang diambil dari anak perempuan masing-masing bupati nayaka (menteri kerajaan).

Agar memenuhi jumlah 9 penari, dipilihlah satu orang lagi, yaitu cucu perempuan pepatih dalem (perdana menteri kerajaan).

Sifat dan Makna Tari Bedhaya Ketawang

Menurut KGPH. Panembahan Hadiwijaya Maharsitama, Tari ini mengandung sifat dan makna sebagai berikut:

1. Adat Upacara

Tari Bedhaya memiliki fungsi bukan hanya sebagai tontonan semata, karena kedudukannya sebagai sebuah tarian pusaka yang bahkan hanya ditampilkan pada waktu-waktu yang sangat khusus.

Selama tarian berlangsung, tidak diperkenankan mengeluarkan hidangan dan merokok, seluruh suasana diharuskan untuk hening, dan semua tamu yang hadir tidak diperkenankan berbicara.

2. Sakral

Menurut kepercayaan keraton, Kanjeng Ratu Kidul hadir ketika tarian ini dilakukan. Tidak semua orang dapat melihatnya, hanya orang-orang yang peka secara mata bain saja yang bisa menangkap wujud kehadiran sang ratu.

Konon katanya, saat penari berlatih, Rau Kidul ikut serta mengawasi dan bahkan membetulkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh si penari.

3. Religius

Tarian ini memiliki lirik pada salah satu baitnya, yaitu “…tanu astra kadya agni urube, kantar-kantar kyai, yen mati ngendi surupe kyai?” yang artinya “…kalau meninggal, kemana tujuannya kyai?”

Hal ini menjadi pengingat bahwa setiap manusia akan mengalami kematian, makan diharuskan bagi siapapun untuk berbuat baik dan berbakti kepada Tuhannya.

4. Asmara

Tari Bedhaya melambangkan kisah curahan cinta asmara Kanjeng Ratu Kidul terhdapa Panembahan Senapati. Semuanya tersirat dalam gerakan tangan serta seluruh bagian tubuh penari.

Segala gerakan tersebut telah dibuat sedemikian halusnya sehingga orang awam bisa memahaminya.

Musik Pengiring Tari Bedhaya Ketawang

Gendhing yang dipakai dalam seni ini adalah Gendhing Ketawang atau Gendhing Ketawang Gedhe.

Gendhing ini bersifat sakral dan khusus, tidak dapat dijadikan Gendhing Klenengan (untuk hiburan), karena bentuk asalnya merupakan tembang yang termasuk dalam tembang gerong. Gamelan yang mengiringi Tari ini terdiri dari kethuk, kenong, kendhang, gong, dan kemanak.

Ditengah pertunjukkan, iramanya akan berpindah sejenak dari pelog ke slendro sampai 2 kali. Kemudian kembali ke laras pelog sampai akhir gendhing.

Bagian pertama biasanya diisi sindenan (lagu) Durma. Selanjutnya berganti ke sindenan Retnamulya. Pada saat mengiringi penari keluar dan masuk lagi, instrument Gamelan ditambah dengan rebab, gender, gambang, dan suling.

Penari Tari Bedhaya Ketawang

Tarian ini diperagakan oleh 9 orang yang dilatih secara khusus oleh para abdidalem putri, atau mantan penari keraton yang diangkat oleh Sunan menjadi pelatih tari klasik.

Syarat untuk bisa menjadi penari ini adalah seorang putri yang masih perawan, suci lahir dan batin, serta bukan merupakan putri sunan.

Peraturan ini lalu berubah pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwana XII sejak tahun 1980. Putri sunan maupun penari luar yang memiliki kemampuan diperbolehkan ikut menarikan tarian ini. Dengan syarat, harus meminta izin epada Kanjeng Ratu Kidul (secara batinniah).

Pelatih tari ini membedakan sebutan untuk para penari sesuai dengan tahap latihan yang harus dilalu, yaitu:

1. Penari Magang

Berjumlah 36 orang Surakarta dan bukan merupakan kerabat keraton

2. Penari anggara kasih

Berjumlah 5 orang, yang tepilih dari 36 orang penari magang dan mendapat izin untuk menarikan Tari Bedhaya Ketawang pada saat latihan di hari anggara kasih atau selasa Kliwon.

3. Abdidalem Bedhaya

Yaitu penari pada hari latihan anggara kasih yang terpilih menjadi penyaji tari

Penari juga memiliki nama-nama khusus sesuai dengan posisi dan peranannya selama berlangsungnya persembahan Tari Bedhaya Ketawang, yaitu:

1.Batak (pikiran dan jiwa)
2.Endhel Ajeg (keinginan hati / nafsu)
3.Endhel Weton (tungkai kanan)
4.Apit Ngarep (lengan kanan)
5.Apit Mburi (lengan kiri)
6.Apit Meneng (tungkai kiri)
7.Gulu (badan)
8.Dhadha (badan)
9.Boncit (organ seksual)

Busana Tari Bedhaya Ketawang

Busana yang digunakan oleh para penari Bedhaya Ketawang adalah dodot ageng atau disebut juga basahan, yang biasanya digunakan oleh pengantin perempuan Jawa.

Penari juga menggunakan gelung bokor mengkurep, yaitu gelungan yang berukuran lebih besar daripada gelungan gaya Yogyakarta, serta berbagai aksesoris perhiasan yang terdiri atas centhung, garudha mungkur, sisir jeram saajar, cundhuk mentul, dan tiba dhadha (rangkaian bunga melati yang dikenakan di gelungan yang memanjang hingga dada bagian kanan).

Busana penari Bedhaya Ketawang sangat mirip dengan busana pengantin Jawa dan didominasi dengan warna hijau, menunjukkan bahwa kesenian ini merupakan tarian yang menggambarkan kisah asmara Kangjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram.

Avatar
Anggita Dewi Saya sangat suka dengan keberagaman budaya dan seni yang ada di Negara Indonesia.

Tari Kanjar

Avatar Anggita Dewi
1 min read

Tari Didong

Avatar Anggita Dewi
2 min read

Tari Ende Lio

Avatar Anggita Dewi
1 min read