Daftar Slot Onlinejoker123esports indonesiaSBOBETpoker onlinesbobet88
Tenun: Kerajinan Asli Indonesia yang Mendunia
Anggita Dewi Saya sangat suka dengan keberagaman budaya dan seni yang ada di Negara Indonesia.

Tenun

tenun

Indonesia yang kaya akan kebudayaannya, tak henti-hentinya membuat kita terpesona. Berbagai kesenian selalu dapat disajikan dengan begitu indahnya. Salah satu kesenian yang juga sudah iakui oleh dunia adalah tenun.

Bahkan, pada September 2017 lalu, tenun berhasil mengepakkan sayapnya di kancah Internasional. Untuk pertama kalinya kerajinan asal NTT ini ditampilkan dalam acara Couture New York Fashion Week.

Pada 27 Februari-6 Maret 2018, seorang pemilik butik juga berhasil membawa kembali kain tenun ke sebuah ajang pagelaran mode bergengsi di dunia, yakni Paris Fashion Week 2018 di Paris.

Namun, mungkin tidak semua dari kalian tahu tentang tenun ini, apalagi cara membuatnya. Nah, kali ini Pesona Indonesia akan membagikan informasi-informasi terkait kerajinan ini.

Pengertian Tenun

Tenun merupakan teknik dalam pembuatan kain yang dibuat dengan prinsip sederhana, yaitu dengan menggabungkan benang secara memanjang dan melintang. Dengan kata lain, bersilangnya antara benang lusi dan pakan secara bergantian,

Kain ini biasanya terbuat dari serat kayu, kapas, sutra, dan lainnya. Pembuatannya juga dilakukan di Indonesia, terutama Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

Seni ini juga berkaitan erat dengan sistem pengetahuan, budaya, kepercayaan, lingkungan alam, dan sistem organisasi sosial dalam masyarakat. Karena kultur sosial dalam masyarakat beragam, maka seni tenun pada masing-masing daerah memiliki perbedaan.

Karena itu, kerajinan tenun dalam masyarakat selalu memiliki ciri khas, dan merupakan bagian dari representasi budaya masyarakat tersebut. Kualitas tenunan biasanya dilihat dari mutu bahan, keindahan tata warna, motif, pola dan ragam hiasannya.

Sejarah Tenun

Ternyata, menenun telah dilakukan sejak zaman dahulu kala. Ada indikasi bahwa menenun muncul sejak zaman Paleolitikum atau zaman batu tua, ketika alat-alat batu buatan manusia untuk membantu hidupnya masih dikerjakan secara kasar.

Diperkirakan, di zaman ini, manusia purba menenun karena terinspirasi jaring laba-laba, sarang burung, atau “bendungan” yang dibuat oleh berang-berang.

Sesuai dengan kebutuhan manusia atas bahan sandang, aktivitas menenun mulai tersebar ke berbagai tempat di dunia. Penyebarannya merata, meliputi benua Eropa, Amerika, hingga ke Asia, dan akhirnya masuk ke wilayah Indonesia.

Di Indonesia sendiri, kerajinan ini juga mengalami penyebaran hingga ke pelosok daerah dan hampir di semua tempat memiliki produksi kain yang unik dan berkualitas.

Alat Tenun

Alat tenun terdiri dari alat tradisional, alat ini bukan mesin yang dipakai untuk menenun dengan tangan manusia, serta alat dengan mesin yang dilengkapi motor penggerak.

Menurut ukurannya, alat tradisional dan alat bukan mesin yang berukuran kecil dipakai untuk menenun sambil duduk, sementara alat tenun berukuran besar digunakan untuk menenun sambil berdiri.

Orang Mesir kuno dan orang Cina kuno sudah mengenal alat tenun bukan mesin sejak 4000 SM.

Fungsi dasar alat ini adalah sebagai tempat memasang benang-benang lungsin agar benang pakan apat diselipkan di sela-sela benang lungsin untuk dijadikan kain. Bentuk dan mekanisme alat ini dapat berbeda-beda, namun fungsi dasarnya tetap sama.

1. Alat Tenun tradisioal (Gedongan)

Alat tenun tradisional adalah alat yang sangat umum digunakan di berbagai daearah. Alat ini sudah dipakai sejak zaman prasejarah.

Gedogan ini terbuat dari bambu dan kayu, yang fungsinya hanya untuk mengaitkan benang lungsi saja. Terdapat dua ujung bilah kayu dan bambu pada alat ini.

Ujung pertama dikaitkan pada tiang atau pondasi rumah, sedangkan ujung satunya diikat pada badan penenun.

Alat ini digunakan sambil duduk dilantai kemudian mulailah penenun menenun dengan meletakan benang lungsi dan pakan secara bergantian.

Motif tenun yang dihasilkan dengan alat ini bukan hanya indah tetapi juga berkualitas tinggi karena dikerjakan dengan sangat cermat dan teliti sehingga memakan waktu yang lama. Sehingga kain ini sering dijual dengan harga yang fantastis.

2. Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM)

Seiring dengan perkembangan zaman, manusia juga pasti ikut beradaptasi dengan zamannya. Maka, dibuatlah alat tenun bukan mesin ini.

Pada prinsipnya cara kerja ATBM ini hampir sama dengan Gedogan yaitu penenun menenun dengan posisi duduk. ATBM merupakan alat yang terbuat dari kayu yang dipasangi beberapa perlengkapan sehingga menjadi satu kesatuan unit.

ATBM terdiri dari beberapa alat yang mempunyai funsgi yang berbeda, antara lain

  • Boom Lungsi yang digunakan untuk menggulung benang lungsi
  • Boom kain digunakan untuk menggulung kain yang sudah ditenun
  • Guun digunakan untuk mengendalikan dan menggerakkan benang lungsi agar sekoci dapat masuk di sela-sela benang lungsi
  • Injakan guun digunakan untuk mengatur guun
  • Sisir digunakan untuk mengatur kerapatan benang lungsi
  • Pemberat gulungan benang lungsi digunakan untuk menjaga kekencangan benang agar tetap stabil

ATBM digerakkan secara manual dengan menggunakan kaki dan tangan. Cara kerjanya adalah dengan mengayunkan pedal dan tangan menarik pengungkit.

Tentu saja kualitas kain yang dihasilkan dari ATBM lebih rendah jika dibandingkan dengan kain tenun dari alat gedogan, hal ini terjadi karena apabila ada benang yang putus maka akan tampak pada kain yang dihasilkan.

3. Alat Tenun Mesin

Semakin banyaknya permintaan atas kerajinan ini, maka penenun pun melakukan inovasi dengan membuat mesin pengrajin tenun. Mesin ini dilengkapi dengan motor penggerak sehingga untuk menghasilkan sehelai kain tenun, proses pengerjaanya sepenuhnya dikerjakan oleh mesin.

Kain yang dihasilkan dari alat mesin tidak dapat menyamai kualitas kain yang dihasilkan baik dari alat tenun tradisional maupun dari alat bukan mesin (ATBM).

Meskipun kualitas kain lebih rendah tetapi harga jual kain yang dihasilkan oleh alat mesin lebih murah. Hal ini tentu saja membahayakan eksistensi penenun tradisional.

Teknik Tenun

Teknik menenun disetiap daerah tidak sama. Karena banyaknya jenis kain tenun di Indonesia, maka tak heran jika teknik atau cara pembuatan kain ini jadi beragam. Teknik yang digunakan akan mempengaruhi jenis kain yang dihasilkan.

Setidaknya ada 3 teknik dasar yang digunakan dalam membuat kerajinan ini di Indonesia, yaitu teknik sederhana/polos, teknik kepar dan teknik saten.

1. Teknik Tenun Polos / Sederhana

Tenunan polos merupakan teknik tenun yang paling sederhana dan mudah. Proses menenun dilakukan dengan menyilangkan sebuah benang lungsi dan pakan naik turun secara bergantian.

Ciri – ciri dan karakteristik teknik polos :

  • Mempunyai rapot yang paling kecil diantara semua jenis kain tenun.
  • Proses pengerjaan benang yang paling sederhana dengan konsep 1 benang pakan naik, dan 1 benang pakan turun.
  • Pengulangan benang kearah horizontal (lebar kain) diulangi 2 kali sesudah 2 helai pakan, sedangkan pengulangan kearah vertikal (panjang kain) diulangi sesudah 2 helai lungsi.
  • Jumlah silangan yang terdapat pada teknik tenun polos paling banyak jika dibandingkan dengan teknik lainnya.
  • Teknik polos menghasilkan kain yang paling kuat diantara teknik lainnya karena letak benang yang lebih kokoh dan tidak mudah berubah tempat.
  • Tenun polos lebih populer karena tenun polos dapat dikombinasikan dengan teknik lainnya.
  • Range tenun polos lebih lebar jika dibandingkan dengan teknik lainnya.
  • Teknik polos bisa diaplikasikan pada kain yang jarang dan tipis.
  • Gun yang digunakan pada teknik tenun polos minimal menggunakan 2 gun.
  • Benang pakan yang digunakan pada teknik polos biasanya lebih kasar dari pada benang lungsi.

2. Teknik Tenun Kepar

Teknik tenun kepar dilakukan dengan cara menyilangkan benang pakan dibawah beenang lungsi, dengan titik pertemuan antara kedua benang berjalan miring pada tenunannya.

Teknik kepar dilakukan dengan prinsip menyilangkan benang pakan dibawah benang lungsi secara silih berganti. Teknik kepar juga dapat dikembangkan menjadi berbagai motif.

Ciri – ciri teknik silang kepar:

  • Benang lungsi yang menyilang diatas benang pakan lebih banyak dibandingkan benang lungsi yang menyilang dibawah benang pakan.
  • Kain kepar kurang kuat jika dibandingkan dengan teknik tenun polos karena teknik kepar mempunyai lebih sedikit benang sehingga benang-benang nya menjadi lebih longgar.
  • Kain kepar lebih lembut karena anyaman pada teknik kepar mempunyai karekteristik benang yang panjang sehingga lebih mudah untuk bergerak.
  • Kain kepar mempunyai 2 permukaan yaitu permukaan depan adalah efek benang lungsi, sementara bagian belakang adalah efek benang pakan.

Macam – Macam model baju tenun anyaman kepar:

  • Kepar pakan

Kepar yang memiliki efek pakan yang lebih panjang dari pada efek benang lungsi.

  • Kepar rangkap

Kepar yang efek lungsi nya sama dengan efek pakan.

  • Kepar lungsi

Kepar yang efek lungsinya lebih panjang dari pada efek pakan. Kepar ini lebih tahan gosokan dan lebih awet jika dibandingkan dengan kepar jenis lain.

  • Kepar 450

Kepar yang mempunyai garis membentuk sudut 450 derajat terhadap pakannya. Garis kepar adalah garis yang terbentuk karena penyilangan lungsi pada lungsi berikutnya bergeser 1 pakan. Besarnya sudut dipengaruhi oleh letak lungsi dan letak pakan.

  • Kepar kanan

Kepar yang garisnya miring kekiri dari bawah.

  • Kepar runcing

Kombinasi dari kepar kanan dan kepar kiri, garis kepar bertemu di ujung kain.

  • Kepar tulang ikan mirip dengan kepar runcing

Merupakan kombinasi kepar kanan dan kiri tetapi garis kepar tidak bertemu di ujung.

3. Teknik Tenun Silang Satin

Teknik silang satin yaitu teknik tenun yang menggunakan 5 gun pada proses pembuatannya. 5 gun maksudnya adalah 4 benang lungsi diatas dan 1 benang pakan dibawah,

Terkadang silang satin menggunakan lebih dari 5 gun. Disebut satin karena adanya pergeseran dua pakan atau lebih pada titik-titik silang pada benang lungsi. Permukaan kain pada silang satin ini mempunyai efek-efek panjang kearah kedua benang pakan dan lungsi.

Ciri – ciri teknik sarung tenun satin :

  • Kain kurang kuat karena benang-benangnya kurang kokoh dan cenderung akan mengendor.
  • Kain dari silang satin mempunyai kilau yang lebih menonjol dibanding teknik tenun lainnya.
  • Karena sedikitnya jumlah silangan, kain yang dihasilkan pada silang satin ini lebih halus, berkilau, dan lembut karena benang-benang pada silang satin saling berhimpit satu sama lain.

Itulah informasi lengkap dari kerajinan tenun yang ada di Indonesia. Kesenian ini masih terjaga sampai sekarang. Bahkan, ada juga tarian bernama tari tenun yang menggambarkan perempuan Bali yang sedang menenun.

Semoga dengan adanya artikel ini dapat membantu kalian dalam menambah ilmu pengetahuan kalian.

Avatar
Anggita Dewi Saya sangat suka dengan keberagaman budaya dan seni yang ada di Negara Indonesia.

Alat Musik Jawa Tengah

Avatar Anggita Dewi
3 min read

Kesenian Bali

Avatar Anggita Dewi
3 min read

Kesenian Minangkabau

Avatar Anggita Dewi
2 min read